Tionghoa? Aku Indonesia









‘ Orang cina itu selalu eksklusif ‘

Satu kalimat yang aku kutip pada sebuah novel yang sedang aku baca. Sebuah novel yang masih menceritakan mengenai sebuah perbedaan. Sebuah novel dengan latar di sebuah pulau dengan penduduk yang beragam dan banyak sekali dikunjungi Turis. Bali?  Yap, Bali. Masih di Bali dan masih bersama dengan novel yang berjudul ‘ Different ‘.

Akan tetapi tulisan ku kali ini ‘mudah-mudahan’ akan lebih terarah ya.. Karna memang si biasanya ntah mau nulis itu asal aja. Apa yang keluar dikepala ini pasti langsung aku ketik begitu saja tanpa berpikir lagi apa si tujuan aku nulis sebenarnya ini ^^.

Bicara mengenai kalimat yang aku kutip, hmm… ketika membaca pada cerita tokoh Alika, aku jadi kembali pada sebuah masa dimana di masa itu aku masih SD. Sama seperti masa dimana sang tokoh menceritakan bagaimana seorang teman kecilnya yang bernama Gugun.

Menurut sang tokoh,  orang Cina itu kebanyakan mereka hidup bergaul dengan sesamanya saja (maksudnya Cina sama Cina). Mereka cenderung akan menarik diri dari pergaulan apabila mereka berada pada lingkungan yang tidak sama dengan mereka. Mereka akan mencari teman atau orang yang ingin mereka anggap sebagai ‘teman’ sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan. Ini yang aku tangkap dari maksud tokoh Alika yang disampaikan oleh penulis.

Dan bagaimana menurut ku??

Hmm.. Aku pikir.. penulis tidak salah mengutarakan pemikiran sang tokoh Alika. Memang pada dasarnya ketika kita terjun ke masyarakat, hal ini memang 95% akan kita jumpai (data menurutku, bersumber dari pengalaman pribadi) . Tapi pemikiran seperti ini tidak harus kitta pukul rata bahwa mereka orang Cina itu semua sama. Karena kalau menurutku, ketika  kita terjun ke masyarakat nantinya, selain sesuatu yang sama dengan apa yang kita pikirkan, maka akan juga muncul sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah kita pikirkan. Disinilah aku juga mulai untuk belajar suatu hal yang awalnya membuat ku ingin lari dari dunia ini.

Aku, kalau bahasa kerennya blasteran. Ayah ku keturunan Tionghoa meski sudah generasi ke tiga (3) atau empat (4). Menurut sejarah keluarga kami, almarhum kakekku (generasi pertama kami yang ke pulau Jawa) datang ke Indonesia sekitar tahun 1850an. Menikah dengan pribumi. Dan seterusnya hingga hadirlah aku sekarang ini yang lahir di tahun 1998 dan hidup sampai sekarang.

Menurut cerita yang aku dapatkan, marga suatu keluarga itu dibawa atau diwarisi oleh anak laki-laki. Jadi pada generasi kami (aku, adik-adik, dan sepupu) marga keluarga kami masih ada, karena masih ada keturuanan dari keluarga besar kami yaitu adik ku yang laki-laki. Dia satu-satunya keturunan keluarga besar kami. *makanya ibuku terlalu sayang padanya. #justintermesso

Yahhh well balik lagi ke  topik. Lalu aku ini keturunan apa donk? Kan ibuku bukan keturunan Tionghoa juga, karena ibuku seorang pribumi, asli orang jawa. Hmm.. Ada yang bilang tergantung dimana aku bergaul. Ada yang bilang aku sudah termasuk pribumi bukan lagi keturunan Tionghoa lagi. Ada yang bilang aku blasteran. Tapi menurutku yang tepat sepertinya itu… Aku… orang Indonesia.

Aku di lahirkan di Surabaya. Surabaya itu ibu kota provinsi Jawa Timur. Jawa Timur itu bagiaan dari wilayah Indonesia. Indonesia termasuk benua Asia. Jadi aku ini orang Asia dan aku ini orang Indonesia. Terlepas orang mau bilang aku suku apa. Ya aku Indonesia.



Hmmm.. Kalau balik lagi dengan pokok pembahasan yang awal mengenai orang Cina. Aku sendiri juga bingung si.. Kalau memang orang-orang Cina itu hidupnya berkelompok dengan ras yang sama dengan mereka. Mengapa aku serasa seperti di isolasi dari pergaulan semasa aku kanak-kanak dahulu? Apa karena aku berbeda? Atau karena benar aku ini orang pribumi bukan lagi ada keturunan orang Tionghoa? Hmmm Sesuatu yang belum bisa aku jawab sampai sekarang. Kalau mikir positifnya bisa si. Mikir negatifnya juga bisa atas perilaku mereka.

---- Hmmm kayaknya pembaca mulai bingung dengan pembahasanku, Karena aku sendiri mulai bingung kemana arah pembicaraanku sebenarnya ----

Sedikit ceritaku mengenang masa lalu..

Dahulu aku aktif pada kegiatan-kegiatan di Gereja. Aku selalu rajin beribadah. Meski orang tua ku blasteran dan bukan dari kecil memang di didik secara Kristiani, namun orang tua ku rajin membawa ku sekolah minggu setiap hari minggu. ( kalau yang tidak tahu sekolah minggu, itu sama halnya seperti beribadah ke Gereja setiap hari minggu ). Tapi selama masa TK, SD, sampai SMP ku.. Aku tidak memiliki teman di Gereja. Ada saja alasan mereka untuk menjauhiku. Ada yang bilang aku bau badan, ada yang bilang aku tidak pernah ganti baju, ada yang bilang karena aku berkulit hitam, dan lain sebagainya. Perkataan-perkataan itu membuat aku minder apalagi karna aku juga bukan dari keluarga yang berada,  hingga suatu hari aku benar-benar tidak kuat dan memutuskan untuk berhenti ke Gereja.

Awalnya aku berusaha menguatkan diri ku dengan berpikir ‘ bodo amat sama mereka, yang penting di sekolah aku punya temen, yang penting aku masih punya saudara, yang penting aku masih punya keluarga ‘. Tapi dasarnya anak kecil.. Kalau bisa bertahan pada suatu komunitas yang menolak mereka saja,  sudah mantab menurutku. Tapi di kelompok – kelompok lain aku kembali di tolak. Hal ini berlawanan dengan apa yang telah aku pikirkan sebelumnya, bahwa aku masih punya teman di sekolah, bahwa aku masih punya saudara dan keluarga.

Kalau di Gereja kehadiranku ditolak karena aku berkulit hitam, di sekolah ku yang Negeri (milik pemerintah)  dan mayoritas beragama muslim aku kembali di tolak karena aku dianggap berbeda kulit. Bagi mereka kulitku putih. Lalu,  apakah aku masih bisa cuek? Awalnya si bisa sampai…

Di lingkungan keluarga aku kembali mendapatkan perasaan bahwa aku di tolak. Bagaimana tidak di tolak? Salah satu kakak papaku mengatakan bahwa aku ini bukan termasuk keturunan keluarga besarnya. Aku bukan lagi orang yang masuk keturunan Tionghoa. Dan karena aku bersekolah pada sekolah yang mayoritas suatu suku tertentu pada waktu itu, ia mengatakan bahwa kelak tamat sekolah aku akan dinikahkan dengan orang – orang yang bermayoritas di sekolahku. Kata-kata itu bukan satu dua kali di ucapkan. Dan hal itu tertancap, terkenang, terekam jelas dalam memori otakku.

Kalau dulu aku menghadapi semua itu dengan meratapi nya sendiri, menangis dalam kamar karena tidak ada satu orang pun yang percaya padaku, bahkan ayahku ketika aku bercerita ia malah memarahiku. Kini aku terima semuanya dengan ikhlas. Aku percaya Tuhan tidak pernah tidur. Apapun yang mereka perbuat padaku, aku yakin Tuhan melihatnya dan aku percaya semua akan indah pada waktunya.

Dewasa ini aku belajar, kalau kamu mau dihargai oleh orang lain maka kita harus mulai dari diri kita sendiri. Hal ini sebenarnya mudah. Namun seringkali kita mengabaikannya sehingga orang lain pun memperlakukan kita seenaknya bahkan kadang lebih buruk dari apa yang kita harapkan.

Dari cerita singkatku, aku bangga menjadi diriku sendiri. Aku bangga menjadi blasteran kalau kata orang ya.. Ampyang ( Cina Jawa ). Aku bangga karena ayah ku Tionghoa, aku senang karena ibuku Pribumi. Meski mereka memperlakukan kami (khususnya ibuku) dengan tidak sama terkadang, tapi aku bangga dan aku senang. Karena semua itu dari Tuhan.

Jadi kalau balik lagi apa bener kalimat yang di utarakan penulis itu melalui tokoh Alika? Aku pikir… Mungkin ada benarnya. Namun tidak semua! Karena mereka yang tidak berpikiran begitupun ada. Kalau tidak, tidak mungkin akan ada lahirnya diriku ini, ya kan? Tapi terlepas mereka baik atau tidak, itu tergantung dari kepribadian orang itu masing-masing. Kita tidak bisa judge mereka begitu saja. Kita juga tidak bisa ikut-ikutan begitu saja dengan pemikiran masyarakat yang telah melekat. Jangan menyamaratakan semuanya karena belum tentu semua itu sama dan belum tentu semua itu berbeda.

Maaf apabila ada salah, baik kata atau perbuatan
- Maaf tidak bermaksud menyinggung
- Maaf apabila ada kurang berkenan dapat menghubungi via email stefanikristina@gmail.com
- Maaf penulis masih baru belajar untuk kembali menulis, mohon dukungannya
- Saya menerima baik kritik maupun saran, terima kasih

Kritik dan Saran : stefanikristina@gmail.com