Memilih Untuk Mundur






Memilih Untuk Mundur

Usaha memang perlu, semua orang harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Tapi apabila sesuatu itu memang tidak atau belum untuk di raih, maka.. sudah sepantasnya kita sadar diri, dan aku.. aku.. aku memilih untuk mundur.



Memang benar maju pun tak salah, namun alangkah pantasnya aku mundur saja. Seperti yang sudah aku katakan, izinkan aku masuk apabila memang kamu berkenan, buka saja sedikit pintumu agar aku tak ragu untuk mengetuk. Sayangnya kamu tak kunjung membuka pintu sehingga aku nggak tahu apakah aku harus permisi atau pamit. 

Akhirnya tanpa sempat untuk permisi masuk maupun pamit untuk pergi, aku memutuskan untuk meninggalkanmu begitu saja, mundur dari perjalanan yang 'mungkin' Tuhan belum kasih untukku saat ini. 'mungkin' memang ini benar-benar belum saatnya.

Puji Syukur pada Tuhan Sang Pencipta, berbagai masalah itu datang silih berganti. Membuatku diproses menjadi pribadi yang lebih dewasa baik dalam bersikap maupun bertutur kata. Puji Syukur juga Tuhan telah memberikan aku berkat serta karunia yang sampai hari ini tak bisa membuatku berhenti untuk tersenyum dan bersyukur.

Ketika aku memutuskan untuk benar-benar mundur, Aku memilih untuk diam dan tidak lagi kembali pada masa yang telah lalu. Akhirnya aku memilih untuk berada pada jalanku sendiri saja. Tidak lagi aku berniat untuk membuka percakapan bersamanya. Tidak lagi aku ingin memilih untuk bertegur sapa dengannya. Cukup sampai disini saja.

maybe.. untuk bersapa 'hai' masih dimungkinkan.. tapi... 

tidak. Aku memilih untuk mencari aman. 

Semakin aku berusaha untuk mendekatkan diri maka aku akan semakin susah untuk pergi jauh darinya. Seperti ini saja sudah cukup. Cukup membuat masing-masing dari kita menjadi nyaman. Cukup membuat masing-masing dari kita bisa saling memandang, meski dalam kejauhan.

Disisi lain aku takut juga melukai orang lain yang memang 'Andai kata' benar.. Ia merupakan orang yang kamu kasihi dan juga mengasihimu. Alangkah indahnya apabila kita melihat hal yang indah-indah saja dan menciptakan senyum serta tawa manusia bukan memberikan kesedihan pada manusia yang berdosa.

Aku bahagia dari sini telah belajar untuk memahami dan juga mengerti akan maksud Tuhan mempertemukan ku denganmu. Baik dan buruknya pengalaman ini membuatku belajar untuk semakin dewasa. Meski aku tahu bibir ini tak kuasa untuk menahan tak bercerita tapi aku tahu.. Tuhan berusaha membuatku paham akan maksud dan tujuanNya.

Sedihku pun tak bisa menjadi sedihmu. Kamu akan tetap tersenyum bersama orang-orang yang mengasihimu. Doaku saja dari sini.. Mudah-mudahan tidak ada lagi hati yang kamu buat bertanya-tanya akan maksud kedatanganmu yang tak tentu. Akan maksud tatapan matamu yang membuat orang lain berasumsi. 

Aku sudah memutuskan untuk menjauh, jadi please.. jangan lagi mendekat disaat aku sudah memutuskan untuk pergi.




Mey- PO