Calon Pemimpin Baru Negara Ku



Pagi selalu menyapa setiap insan yang ada di bumi ini. Matahari selalu senantiasa menyambut setiap nyawa yang ada. Nyawa yang penuh dengan dosa. Nyawa yang sangat mahal jika semua di pandang dengan uang. Nyawa yang tidak seorang pun dapat menukarnya dengan uang atau pun hal lainnya. Karena nyawa adalah sebuah anugerah.

Tuhan memberikan kita banyak sekali anugerah. Kita dapat bernafas, kita dapat berjalan , kita dapat membaca, kita dapat melihat , kita yahh sempurna! Di mata Tuhan setiap ciptaanNya adalah sempurna. Tapi pernah kah kita bercermin dengan berpikir bagaimana diri kita ini yang sebenarnya? Seringkali tidak.

Cermin yang ada di setiap tempat selalu sama. Namun belum pernah ku temui cermin yang sama seperti milik seorang nenek sihir. Belum pernah juga ku dapati cermin yang sama seperti pada setiap cerita dongeng saat aku masih kecil dahulu hingga kini aku beranjak dewasa. Belum, belum pernah aku ketahui terdapat cermin yang serupa dengan cermin yang dimiliki oleh salah satu pemain dalam suatu tokoh dongeng.

Bicara tentang cermin, mari kita bercermin. Hidup ini indah. Namun mengapa masih saja kita merasa kurang? Lalu, mengapa selalu tidak sama bayangan yang ada di cermin dengan keadaan yang sebenarnya? Seringkali kita pandai sekali dalam berbicara. Kita pandai berdebat. Kita merasa memiliki pengetahuan yang lebih luas. Kita pandai menyusun kata hingga kita merasa bahwa diri kita lah yang terhebat dengan penambahan aksen yang membuktikan kita adalah orang yang lebih unggul dari pada yang lainnya. Namun, pernah kah kita sendiri bercermin dan memandang diri kita pada sisi lain yang akhirnya dapat membawa kita sadar bahwa apa yang kita katakan, apa yang kita ucapkan, apa yang kita janjikan, semua belum tentu dapat kita lakukan! Bahkan terkadang kita hanya dapat berkata namun no action!

Mungkin , beberapa orang dapat melakukan sesuai dengan apa yang mereka ucapkan, sesuai dengan apa yang mereka janjikan. Namun dapatkah kita tahu apakah motivasi yang sebenarnya ada dalam benak setiap individu tersebut? Semua perlu pembuktian secara nyata . Apa yang kita ucapkan tidak dapat hanya menjadi janji belaka. Namun juga harus dapat menjadi suatu kenyataan. Ini lah salah satu hal yang kurang dapat di percaya dan di mengerti dari calon-calon presiden yang akan memimpin negeri ku tercinta Indonesia ini . Pernah kah juga mereka berpikir untuk rakyat tanpa memikirkan bagaimana mendapatkan kedudukan? Bagaimana menjadi orang yang terhormat dan terhindar dari kemiskinan? Apakah para pemimpin baru maupun lama kita dapat menjadi seperti para rakyat yang mereka pimpin?

Terkadang kita dapat begitu langsung simpatik dengan orang lain hanya karena melihat namun tak merasakan. Oleh karena itu kita memiliki niat serta rasa untuk berbagi atau menolong. Namun di balik layar kaca yang menyajikan itu semua , akhirnya kita tahu bahwa siapa yang kita beri rasa simpati sebenarnya hanya lah suatu tipu muslihat belaka. Lalu bagaimana kah jika begitu ? Jika itu pemimpin Negara kita , apakah yang akan kita lakukan? Mungkinkah kita hanya diam serta menyesali keputusan yang telah kita buat?

Memilih calon pemimpin yang layak serta pantas sangatlah susah. Tidak gampang untuk mempercayai orang. Jika pada sesama rakyat saja yang sederajat terkadang kita kurang mampu untuk mempercayainya, bagaimana dengan petinggi-petinggi yang ada jauh disana ? Mungkinkah Negara ini masih akan tetap sama serta terus maju? Di lihat dari kaca ekonomi, memang Negara tercinta ku ini merupakan Negara berkembang yang masih terus berkembang. Namun dengan kata berkembang tersebut dapat disimpulkan bahwa terkadang pasti akan ada perkembangan ke atas , atau ke bawah. Lalu bagaiamana kah nasib Negara tercintaku ini dalam tangan pemerintahaan yang baru nanti? Dapatkah para calon tersebut dapat ku percayai serta dengan banyak masyarakat luas yang lainnya? Entah lah .

Pernah ada yang mengatakan bahwa nasib adalah kita sendiri yang menentukan. Bukan orang lain! Nasib ada di tangan kita. Namun takdir ada pada sang Maha Pencipta. Kita sebagai manusia yang wajar seharusnya dapat menjadi pribadi yang baik. Maka dari itu kita tidak perlu menyerah untuk suatu hal yang seharusnya kita terus lakukan. Jangan selalu memandang dengan penilaian kuantiti. Namun kualitas. Nasib ada di tangan kita. Semua kita yang menentukan. Jadi jika dalam pemilihan nanti , siapapun yang mendapatkan suara terbanyak tetaplah dia yang akan menjadi pemimpin kita. Entah akan di lakukan dengan sistem liberjudil atau tidak, semua tergantung dengan para petinggi yang ada di atas kita.

Untuk para calon pemimpin negeri ku tercinta, sebelumnya ku ucapkan maaf dan mari lah kita coba untuk kembali bercermin. Sudahkah bapak-bapak serta ibu-ibu yang terhormat bercermin dengan sungguh-sungguh? Lalu dapatkah Anda dengan apa yang hati kecil Anda katakan? Tidak? Mungkin tidak. Yang ada pada cermin Anda adalah Anda. Yang hati kecil Anda katakana adalah keinginann Anda yang sebenarnya. Jadi apa yang dapat Anda temui? Kosong? Tidak ada? Jika pada diri sendiri saja Anda tidak dapat peka , lalu bagaimana dengan orang lain? Bahkan dengan masyarakat luas. Dapatkah Anda memahaminya?

Segala sesuatu bersumber dari niat. Di mulai dari niat kita melakukan suatu usaha. Dengan niat juga kita akhirnya dapat menghasilkan sesuatu atau mendapatkan sesuatu yang kita ingin kan. Di saat semua telah tercapai tidak lupa juga dengan kerja keras yang sungguh-sungguh tanpa main-main, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Terus bekerja serta mewujudkan impian yang lain nya dengan kita mendengarkan nasihat serta petuah dari orang lain , atau kah kita hanya bertopang tangan keenak kan karena hasil yang telah kita dapatkan lalu menutup telingga serta mata begitu saja kah? Jika semua para calon pemimpin negeri kita tercinta ini begitu , bagaimana dengan nasib kita rakyat kecil?
Tidak ada yang dapat aku katakan. Aku tidak begitu mengenal dengan para calon pemimpin kita hai kawan ku. Aku juga tidak lagi tertarik dengan segala ilmu politik yang tidak ada bedanya dengan segala ilmu yang ada di dunia ini. Semua penuh dengan kebohongan , semua penuh dengan taktik mushlihat. Semua penuh dengan ketidakadilan serta kecurangan yang mendalam. Namun , sadar kah kita telah melakukannnya?

Jika para menteri pendidikan Indonesia begitu pusing untuk memikirkan bagaimana merubah tata cara kurikulum dalam tahun-tahun ini, mengapa tak bapak-bapak perbaiki dahulu para petinggi kita? Moral kita semua dapat berubah jika sistem serta pemimpin yang ada pun berubah. Setiap kasus korupsi sungguh-sungguh untuk di berantas tanpa ada kasus suap kembali dalam penjara. Jika semua berita pun masih saja sama setiap hari nya, bagaimana kita sang bawahan dapat berubah menjadi baik? Darimana kah kita dapat kan contoh yang hebat jika para pemimpin kita saja memberikan contoh yang sama-sama saja?

Mungkin ada benarnya juga. Otak orang mana yang lebih mahal? Yah otak Negara ku tercinta ini. Karena begitu orisinil dan bersih dari pengetahuan umum yang ada. Kini pendidikan moral lebih di utamakan. Dahulu saat setiap anak kecil yang masih SD belum mengerti apapun bahkan tentang lawan jenis ataupun gadget tidak semarak seperti jaman ini. Mungkin benar jika terdapat lirik lagu “ saiki jamane jaman edan! ..“Bagimana jika tidak di katakan gila jika segalanya telah berbalik arah? 
Sulit untuk di jelaskan kembali. Semua begitu cepat berlalu.

Sebagai makhluk ciptaan yang memiliki suatu keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa , aku percaya bahwa siapapun pemimpin Negara ku tercinta nanti adalah pemimpin yang baik , jujur, adil , serta dapat di percaya. Aku tidak mengharapkan pemimpin yang hanya pandai bermain kata. Namun pemimpin yang kita cari adalah pemimpin suatu Negara yang tidak hanya pandai dalam bermain kata, namun juga pandai dalam menciptakan setiap ide serta mewujudkannya demi kebaikan , kemakmuran , serta kedamaian Negara.

0 Response to "Calon Pemimpin Baru Negara Ku"

Post a Comment

Harap Komentar Dengan Sopan dan Tidak Mengandung SARA atau SPAM
Untuk pasang Iklan contact stefanikristina@gmail.com