Cerita Kehidupan Ibu Penjual Koran





Berilah maka kamu akan diberi ...(...) Lukas 6:38

Satu hari sebelum lebaran ibuku mendapatkan pesanan nasi untuk dikirimkan di daerah perumahan dekat Galaxy Mall. Aku dan adikku laki-laki membantu untuk mengirimkannya termasuk satu paket makanan juga untuk mbahku yang muslim. Usai kami mengantarkan pesanan dan akan mengirim makanan untuk mbah, kami melihat seorang nenek-nenek sedang berjualan koran. Sebenernya sih dia cuma duduk saja, nggak menjajakan. Entah karena lelah atau apa. Tapi hatiku melihat nenek itu rasanya kasian gitu. Hmm aku yakin dia muslim, aku yakin kesulitan ekonomi yang buat dia sekarang ada di jalanan atau yah nggak tahulah semua itu adalah rencana Tuhan.

Dengan beberapa perenungan akhirnya aku putuskan buat kasih mbah itu uang dengan cara membeli korannya. Aku panggil dengan lambaian tangan.. 

ibu penjual koran
sumber : Google


" Mbah.. korannya " lalu si mbah sudah menyodorkan korannya gitu aja
" Berapaan mbah? " 
" lima ribu nak "
" yauda dua yah mbah. " 

Ku beli dua koran itu dengan uangku sepuluh ribu. Jujur aku bukan dalam kondisi berlebih juga sih, tapi selama bisa memberi maka aku berikan saja yang aku punya. Adikku mengomel sebenarnya, ia sudah melihat gelagatku akan memberi si mbah uang dan ia pun berkata juga setelah lampu lalu lintas hijau dan motor kami berjalan.

" Ngapain kamu beli koran buat apa? " tanya adikku
" Gapapa korannya tar kepake juga " 
" Huhhh di sakno malah ngelamak, bukane di kei harga wajar malah ngelunjak. " adikku mulai mengomel.
" Sudah gapapa, toh aku dapet dua koran juga. Itung-itung beli dagangannya " Jawabku menenangkan.

Sebenarnya ini bukan soal berapa yang aku kasih dan berapa yang ibu itu tawarkan harganya padaku. Tapi aku hanya ingin bersyukur saja. Tuhan sudah begitu baik kasih aku berkat dan juga kehidupan hingga malam ini aku bisa mengetik dan juga menyampaikan apa yang aku pikirkan. Bisa saja sih sebenarnya aku kasih saja uang pada ibuk itu kalau aku kasihan.. Sayangnya menurutku itu bukan pilihan yang baik. Ibuk itu masih sehat dan juga kuat bekerja sebenarnya, ia bekerja menjajakan koran dan buatku lebih baik aku beli dagangannya berarti aku menghargai usahanya.

Melihat ibuk itu aku juga jadi teringat mbah ku sendiri. Mbahku sudah tua dan juga ia berjualan keliling setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bukan anak-anaknya tidak sanggup untuk memberi nafkah untuk mbahku, tapi memang mbahku tidak baik di masa mudahnya dan juga ada banyak sekali hal yang tidak bisa ku jelaskan. Yang pasti aku jadi teringat hal itu dan juga aku merasa kasian karena di luar sana banyak orang yang sedang merayakan hari raya justru ibuk itu malah duduk di pinggir jalan menjajakan koran. Bisa jadi ia sendiri tidak bisa berkumpul dengan keluarganya bukan?

Meski aku nggak tahu perasaan orang ketika berkumpul dengan keluarga besar dan merayakan hari raya bersama, tapi aku berusaha untuk menyelami dan merasakan apa yang mbah itu rasakan. Jadi tanpa mikir nanti aku bakalan jajan apa atau beli apa aku cuma bisa kasih apa yang ada saja saat itu. Urusan nanti asalkan ikhlas Tuhan yang akan tambahkan untukku dan aku berdoa untuk mbah itu juga.

Sampai hari ini aku masih merenungkan kejadian kemarin beserta omelan-omelan adikku. Aku memang bukan orang yang berlebih tapi aku bekerja untuk memenuhi kebutuhanku. Apapun cobaan atau pergumulan yang sedang aku hadapi saat ini aku hanya bisa berdoa Tuhan nanti akan berikan aku yang terbaik. Untuk aku dan keluarga dan juga untuk orang-orang yang ada di sekitarku. 

Seengganya dari ibuk penjual koran atau mbah penjual koran itu aku jadi belajar untuk memberi.. Teringat firman Tuhan dalam Alkitab yang mengatakan.. 

" Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.  " LUKAS 6 : 38

Jangan sangka aku nggak pernah khawatir. Aku selalu khawatir akan hari esok. Tapi aku berusaha untuk percaya nantinya Tuhan yang akan tambahkan padaku, nantinya Tuhan yang akan cukupkan. dan Tuhan juga yang akan mengabulkan semua doa-doaku. Akunya ngapain? Akunya berdoa, berserah, dan juga percaya padaNya. Aku berusaha untuk berpikir positif dan terus berpikir positif.

Aku berdoa yang terbaik untuk semuanya. Untuk keluargaku, untuk ibu itu, untuk teman-temanku, untuk sahabatku, untuk kakak-kakak ku, untuk saudara-saudaraku, semuanya.. Tuhan yang akan jamah setiap pergumulan mereka dan mereka boleh dikuatkan hanya dalam namaNya. Amin.




0 Response to "Cerita Kehidupan Ibu Penjual Koran"

Post a Comment

Harap Komentar Dengan Sopan dan Tidak Mengandung SARA atau SPAM
Untuk pasang Iklan contact stefanikristina@gmail.com