Stuck or Nect?






- Kebencian kalau dibiarkan cuma bisa membuat kita stuck di satu tempat

Ketika saya membenci seseorang baik itu pribadinya maupun sikapnya, maka saya hanya akan berfokus pada satu titik yang tidak saya senangi itu. Semakin lama maka akan semakin bertambah rasa tidak suka saya padanya. kenapa saya mengatakan hal yang tidak saya sukai sama dengan saya benci? Ya, karna itu yang saya lihat dari seseorang. Ketika saya mulai tidak nyaman maka saya mulai melist hal hal yang tidak saya sukai a.k.a sama saja dengan hal hal yang saya benci.

- Kebencian atau tidak memaafkan tidak akan memberi hasil apa-apa selain kepahitan, kesedihan dan kegelisahan berkepanjangan. 

Kemudian pada suatu waktu saya mulai sadar dan belajar, belajar untuk menilai hal hal yang tidak saya senangi, belajar untuk memahami, belajar untuk lebih sabar, memaafkan, sehingga kemudian saya tidak berfokus pada satu titik saja :). Sampai hari ini saya masih berproses, saya tidak mengatakan bahwasanya apa yang saya tulis maka saya telah berubah 100%, tidak. Ketika saya mengerti hal ini, saya mulai mau untuk belajar dan diproses menjadi lebih baik. Satu hal yang saya syukuri adalah, saya boleh diproses bersama orang yang saya kasihi dan mengasihi saya. Ia yang mengingatkan saya ketika saya memiliki salah dan ia yang menemani saya dalam hal ini meski seringkali apa yang saya harapkan tidak sesuai dengan apa yang ada, biasalah ^^. Tapi pada intinya ketika kita mulai mau untuk belajar meninggalkan hal hal " kebencian " yang membuat kita gelisah berkepanjangan dan fokus pada satu titik itu, maka kita akan melihat hal hal indah yang lainnya, kita akan melangkah lagi lebih jauh tidak berhenti pada satu titik saja. Betul kan? ☺

- Sulitnya memaafkan maka akan berujung pada sebuah kebencian

Saya tidak mengelak, hal ini benar. Apabila direnungi banyak hal yang saya takutkan, banyak hal yang saya benci. Semua itu karena apa? Karena saya belum mampu untuk memaafkan, dalam hal apa saja. Untuk itu saya mulai belajar untuk memaafkan, Susah sih, tapi saya yakin pasti bisa. Tidak ada yang tidak mungkin dan tidak ada yang tidak bisa. 

sumber google


intermezzo...

Saya berharap kali ini belum terlambat untuk saya memperbaiki setiap kesalahan yang pernah saya buat. Sampai hari ini apabila  saya masih menanggapi setiap pesan yang masuk, orang baru yang ingin berkenalan, bukan berarti saya akan tertarik atau menaruh rasa padanya. Hanya saja, saya merasa ingin sebuah kebebasan dimana saya bisa berkomunikasi dengan siapa saja. Hal ini pun juga saya utarakan pada teman dekat saya, dan dia bertanya " sampai kapan kamu mau seperti ini? kapan kamu mau mulai buat berkomitmen? " Ah yaaa, kata-kata itu terus terngiang-ngiang membuat saya kemudian sadar, saat ini saya sudah menjalin hubungan dengan seseorang. Satu list dari awal tahun yang juga menjadi doa saya sudah terwujud, mengapa saya tidak mempertahankan dan memperbaiki diri? Mengapa saya masih ragu ketika Tuhan sudah hadirkan satu orang untuk saya? 

Berbagai pertanyaan yang muncul merujuk pada satu hal, saya takut. Banyak hal yang saya takutkan sehingga kemudian ketika terjadi gesekan atau sifat-sifat buruk setelah pacaran datang itu membuat saya mundur perlahan, membuat saya ingin pergi namun enggan, membuat saya semakin banyak mempermasalahkan dan kemudian menumpuk kebencian. 

Hal yang membuat saya bersyukur pada hubungan kali ini adalah, saya memiliki pasangan yang lebih dari segalanya. Bukan hanya materi, perhatian, kasih sayang, namun lebih dari pada yang lain adalah pengertian. Banyak hal baru yang saya pelajari darinya, dan ketika ia berproses untuk berubah menjadi lebih baik, saya pun sadar, ini waktunya saya mulai untuk berkomitmen. Tidak lagi stuck dimasa lalu dengan kebencian yang mengakar, namun mulai menebas apa yang mengakar dan menumbuhkan benih benih yang baru. 

Kali ini saya dipertemukan dengan orang yang memang spesial. Beberapa hal yang dia lakukan untuk saya membuat saya sadar, dia orang yang tepat dan layak untuk diberikan kesempatan dan saya pun tak perlu mencari orang lain lagi, cukup satu hingga nanti Tuhan yang mempersatukan dan Tuhan juga yang memisahkan :).


,, ahh maaf tulisannya berakhir sampai disini. 


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Stuck or Nect?"

Post a Comment

Harap Komentar Dengan Sopan dan Tidak Mengandung SARA atau SPAM
Untuk pasang Iklan contact stefanikristina@gmail.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel