Sepenggal Sinopsis Novel Lan Fang Ciuman Di Bawah Hujan

By : Gallery NifaFani @OLX

Sebenarnya Fung Lin ingin bercakap-cakap dengan Rafi. Tetapi kesibukan Rafi sangat banyak sehingga mereka tidak pernah bisa bertemu. Waktu Rafi sangat terbatas. Seakan – akan 24 jam yang dimilikinya tidak cukup di bagi untuk rapat ini dan itu, tugas – tugas kedewanan , kegiatan partai politiknya dan organisasinya.Masih ditambah lagi dengan adanya penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. Dan masih harus mempersiapkan diri untuk menyongsong pemilu dan pemilihan presiden. Entah waktu untuk Fung Lin terselip di mana.

Fung Lin sering membayangkan pada suatu senja mereka duduk berdua menikmati es krim. Fung Lin tidak menyukai es krim yang banyak di hiasi topping m peanut , wafer , biscuit , atau buah-buahan. Semua aksesori itu membuat rasa asli es krim menghilang. Rasa yang di kecap menjadi palsu. Apa lagi kalau disuguhkan di dalam beraneka ragam wadah. Ada yang di dalam gelas tinggi , gelas yang permukaannya lebar , gelas yang pendek , mangkuk , dan lainnya. Maka keasyikan menikmati es krim sudah tidak ada lagi.

Fung Lin lebih menyukai es krim cone yang biasa saja. Ia sangat menikmati saat – saat menjilati pucuk es krim. Ia seperti sedang balapan dengan es krim yang meleleh lalu melumer di sela-sela jarinya. Sering juga es krim membuat bibirnya belepotan.

Raf , maukan kau membersihan es krim di bibirku dengan bibirmu ?

Bagi Fung Lin es krim adalah sesuatu yang manis dan selalu dinikmati dengan perasaan bahagia. Fung Lin memang selalu merasa bahagia walaupun hanya bisa membayangkan Rafi. Maka bila Fung Lin sedang merindukan Rafi , ia segera memejamkan mata. Kemudian ia membiarkan angina menciumi rambutnya , pipinya , dahunya , hidungnya , bibirnya , hatinya.. Fung Lin merasa seperti itu lah bila Rafi menciumnya.

Raf , apakah kau mencium harum hujan di rambut ku ? Karena aku mencium wangi tembakau di napasmu.

Fung Lin sedang menunggu saat yang tepat untuk bercerita pada Rafi . Cerita ni tidak pernah di ceritakan kepada orang lain. Dan untuk selanjutnya , ia pun tidak berniat akan menceritakan kepada siapa-siapa. Disimpannya cerita itu hanya untuk Rafi

Begini ceritanya..

Mama tidak memukul atau mencubitku ketika tahu aku telah mencuri jeruk di pasar. Tetapi Mama mengajakku kembali ke pasar itu.Tentunya tidak melalui pintu belakang dan gang-gang geap , bau , kotor , dan berkelok-kelok itu. Kami pergi ke pasar lewat pintu depan toko . Menurut mama , hanya pengecut yang masuk dan keluar melalui pintu belakang.Setalah sampai di pasar , mama menepi ke pojok yang ku pergunakan bersembunyi dengan Udin tadi. Lalu Mama berkata padaku , “ Sekarang kembalikanlah jeruk itu kepada penjualnya “ Aku tercekat , Raf. Aku tidak mempunyai keberanian sebesar itu. Maka aku memohon agar Mama menemaniku mengembalikan jeruk itu.Tetapi mama berkata “ Bukankah tadi kamu punya cukup keberanian untuk mencurinya sendiri ? Seharusnya sekarang kau juga punya cukup keberanian untuk mengembalikannya sendirian. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan.”Raf , aku merasa mama sangat kejam kepadaku. Bagaimana menurutmu ? Apakah kau sependapat dengan ku ? Mamaku sungguh tega , bukan ?“ Bagaimana kalau penjual jeruk itu marah , ma ? “ tanya ku penuh ketakutan.“ itu kemarahan yang harus kau terima, Lin. Kenapa kau tidak berpikir bahwa dia akan rugi karena kau tidak berpikir bahwa ia akan rugi karena kau telah mencuri jeruknya ? Kenapa kamu tega berbuat begitu , Lin ? “ Jawab MamaRaf , mama mengatakan yang sebaliknya. Menurut mama justru aku yang telah berbuat tega kepada penjual jeruk itu. Begitukah Raf ? Apakah benar aku sejahat itu ? Raf , aku tidak berharap kau sependapat dengan mamaku.Aku marah kepada mama , Raf. Mama tidak membela ku sama sekali. Mneurutku mama sengaja mempermalukanku. Aku lebih suka bila mama memukul atay mencubitku saja. Aku tidak takut bila menghadapi hukuman itu. Aku justru lebih takut malu. Raf..Tetapi kelihatannya Mama tidak membuka pintu kompromi dengan ku. Tidak ada negosiasi. Tidak ada lobi. Tidak ada tawar – menawar. Apakah kau juga seperti mama ketika membuat keputusan politisi , Raf ?Maka aku berjalan-jalan pelan-pelan mendekati penjual jeruk itu. Mama tetap berada di pojok pasar. Aku merasa takut ketika menghadapi ketakutan itu sendirian , Raf. Bisa kah kau membayangkan bagaimana rasanya takut sendirian itu? Bibirku kering , lidahku pahit, tangan ku berkeringat , dan jantungku entah dimana. Aku merasa seperti robot yang diharskan berjalan menuju penjual jeruk itu.
Aku mau lari saja. Seandainya aku seperti Udin , maka aku sudah pasti lari. Lari kemana saja. Mungkin aku akan mengikuti Udin melesat ke gang-gang gelap itu.Bukankah didalam kegelapan kita akan merasa lebih aman karena tidak ada orang lain yang bisa melihat kesalahan kita ?
Sinopsis : Fung Lin mendekati penjual jeruk itu dan sang penjual pun bertanya dengan ramah berapa kilogram jeruk yang hendak Fung Lin beli. Namun dengan terbata-bata kemudian Fung Lin mengeluarkan jeruk yang ia sembunyikan dan berkata bahwa jeruk itu milik nya ( sang penjual jeruk ) . Seketika juga sang penjual jeruk memarah-marahi Fung Lin dan mencaci makinya . Mengata-katakan Fung Lin maling , perampok , dan lain-lain. Seisi pasarpun melihat kea rah Fung Lin. Fung Lin yang lemah berjalan kembali ke mamanya yang teruh memperhatikannya dari pojok pasar dengan menundukan kepala. Namun ada hal menarik dari cerita ini.. Tiba-tiba sepasang kaki datang mendekati Fung Lin, Fung Lin menengadahkan kepala dan melihat anak sang penjual jeruk itu yang hanya memiliki sebuah pensil kecil dan satu buku gambar dengan membawa jeruk dan memberikannya pada Fung Lin sambil berkata “ Untuk mu , Ibuku Punya banyak jeruk “ Dari situ Fung Lin merasa bahwa anak sang penjual jeruk itu jauh lebih berpunya dari padanya. Dia merasa anak itu kaya sekali di banding kan dia. Dan pencuri itu adalah orang paling miskin yang pernah ada. Karena ketulusan seorang anak kecil itu , membuat Fung Lin merasa terhina. Hingga dia menekatkan diri tidak ingin menjadi pencuri meskipun sensasi yang dia rasakan saat mencuri sangat mengasyikkan.

Lalu Fung Lin kembali ke mamanya. Mamanya pun bertanya apakah Fung Lin tetap ingin menjadi pencuri ? Dan Fung Lin pun menjawab tidak. Karena pencuri sama dengan tikus yang senang mencuri remah-remah. Dan Tikus juga tidak berani untuk menatap matahari, Seorang pencuri tidak akan berani menatap terang.

Nah , ending cerita. Tahukah Anda kenapa Fung Lin menceritakan ini kepada Rafi ?

Halaman 276 : “ Raf , apakah kau mengerti kenapa cerita ini akan ku ceritakan kepadamu ? Karena aku ingin kau selamanya menjadi langit yang berani memandang matahari. Selain itu karena aku mempercayaimu , Raf.. Berjanjilah , kau tidak akan melukai kepercayaanku. Karena kau tahu bahwa aku menyayangimu , kan?

Buat saya pribadi , cerita ini sungguh mengesankan. Membuat saya terharu dan banyak mendapatkan pelajaran dan tidak hanya cerita romantis saja. Padahal ini baru sepenggal cerita dari sekian banyak cerita yang di sampaikan oleh penulis Lan Fang. Well , tujuan utama serta harapan saya hanya satu. Mudah-mudahan kepercayaan yang saya berikan kepada orang lain pun tak akan dilukai sama seperti yang Fung Lin katakana kepada Rafi ..

RE : Halaman 266 - 276 ( Rintik 29 : Fung Lin Cerita )