Jantung

13 : 11

Mataku silau memandang langit, kulihat cahaya begitu bersinar, waktu berlalu begitu cepat, padahal aku masih ingin terlena dalam mimpi. Setelah semalam terjaga. Jantung ku tak berhenti berdetak, bisakah aku menghentikannya walau sedetik saja?

Dua hari aku terjaga, susah sekali untuk terlena. Ingin aku kembali normal, namun bagaimana caranya?



Pagi ini angin ku kembali menemukan arahnya, senang aku mendengarnya. Jantung ku berdetak lebih cepat. Tak kuasa aku menahan mata. Aku tetap terjaga agar dapat memberinya ucapan pagi. Ku berseri kepada-Nya "Bapa, Ku harap hari nya menyenangkan. Amin." Aku tahu Bapa tak pernah tidur, aku tahu Bapa pasti mendengarkan seruan doaku. Dalam nama-Nya, aku telah berdoa.

Sebuah pesan masuk melalui ponsel ku, beberapa keluhan ku tampung menjadi satu. Pikiran dan hatiku tak bisa bekerja sama. Jantung ku terus berdetak, tapi tak bisa aku mengatakan pada siapapun. Bumi bergoncang hari ini, tak lagi kuasa menahan amarahnya, namun aku tahu badai pasti berlalu. Lalu, kapan jantung ini bisa berhenti berdetak?

Tunggu..

Aku bukan ingin mati, tapi rasa sesak ini, sungguh menyiksa. Ingin aku menjerit tapi pada siapa aku bisa menjerit? Melalui tulisan aku dapat menuangkan perasaanku. Pikiran ku lebih tenang, namun hati tak bisa ku samakan dengan pikiran. Jantung ini masih terus berdetak. . .

Ketika seseorang membutuhkan tempat untuk bekeluh kesah, maka ada orang lain yang di butuhkan oleh orang tersebut untuk berkeluh kesah. Terus begitu, oleh karena itu manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan orang lain. Manusia bukan makhluk individu.

Tak kuasa lagi ku tahan detak jantung yang begitu menyiksa ini. Aku mengeluh pada malaikatku. Aku pun beristirahat. Namun mengapa jantung ini masih terus berdetak? Apa salah ku?

Siang ini aku memulai sebuah pembicaraan. Ketika pagi ku mendapat kabar burung aku tahu bahwa sesuatu telah terjadi, aku tak bisa lagi untuk melanjutkan pembicaraan di pagi hari, jantungku berdetak cukup kuat. aku putuskan untuk beristirahat, setelah itu.. Aku bangun dan menanyakan kabarnya. Kabar itu benar! Jantungku berdetak lebih kencang. Dalam hati, ku panggil nama-Nya, aku berseru pada Bapa ku, aku memohon ampun dann ku berdoa " Bapa, sembuhkan dan berkatilah dia, Amin ". Aku tahu Bapa tak pernah tidur, aku tahu Bapa pasti mendengarkan seruan doaku. Dalam nama-Nya, aku telah berdoa.

Siang ini ku harap malaikatku tengah tersenyum atas kesembuhan sang ibunda tercinta. Aku tahu ia adalah malaikat yang paling kuat. Namun ia pun juga manusia biasa. Bisa jadi ia menjadi malaikat untuk orang lain, namun bukan untuk dirinya sendiri. Lagi-lagi ku berseru pada-Nya " Bapa, berikan damai sejahtera dalam keluarganya. Berikan ia kekuatan karena ia selalu memberi kekuatan pada manusia-manusia yang lemah. Amin " Aku tahu Bapa tak pernah tidur, aku tahu Bapa pasti mendengarkan seruan doaku. Dalam nama-Nya, aku telah berdoa

Hari ini aku baru melewati setengahnya. Setengah dari hari ini. Aku berdoa untuk mereka yang tengah dilanda masalah. Aku berharap mereka menjadi kuat. Mereka adalah orang-orang yang baik. Bapa tahu bagaimana hati mereka. Aku pun berharap.. Mereka menemukan orang-orang yang terbaik dalam hidupnya.. Bila tidak, aku akan menjadi bagian kecil dari hidupnya sebagai pemanis. Amin..


13 : 43
Jantungku mulai tenang