Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 161 Tugas 2 Semester 2

Tugas 2

Memproduksi Teks Cerita Fiksi dalam Novel secara Mandiri Setelah melakukan latihan penyuntingan dan mengabstraksi “Gadis Kecil dan Doanya” pada tugas sebelumnya, berikutnya kalian diminta untuk membuat teks cerita fiksi secara mandiri. Kalian bisa menulis ulang hasil suntingan kalian tersebut. Untuk memudahkan penulisan, kalian bisa mencari sumber bahan tulisan di perpustakaan, media massa, internet, observasi di lapangan, dan/atau wawancara dengan narasumber. Catatlah semua data yang diperoleh, baik catatan kepustakaan, catatan lapangan, dan/atau hasil wawancara, kemudian tulislah menjadi sebuah teks cerita fiksi yang utuh secara mandiri.

find me on instagram @NifaFani


Baca postingan sebelumnya untuk mendapatkan sumber teks yang akan di konversi menjadi teks cerita fiksi. >> Teks Yang Akan Di Konversi

Hari ini adalah hari rabu, sudah hampir 3 hari rupanya hujan mengguyur kota ku, kota tercinta, kota kelaiharan ku, kota dimana aku dibesarkan, yaitu Bekasi. Kota yang memiliki beragam keindahan dan juga kenangan untuk ku pribadi. 

Aku di besarkan bersama kedua orang tua ku. Kami dirumah hanya berempat, ayah, ibu, aku, dan adikku tata yang masih balita. Umurnya baru mencapai 5 tahun di tahun 2016 ini. Wah tidak terasa rupanya. Sungguh senang ketika aku mengetahui di tahun 2011 lalu bahwa aku akhirnya memiliki seorang adik, seorang teman.

Kini, aku pun tak sabar menunggunya dewasa. Setiap pagi aku bangun dan memperhatikannya, ingin mengajaknya bermain bersama. Dia sungguh lucu dan menggemaskan. Sebelum berangkat ke sekolah pun aku selalu menyapanya terlebih dahulu. bercanda dan tertawa bersama, itulah yang aku lakukan setiap hari selama aku dirumah. Namun hari ini adikku sepertinya terlihat lain. Sedari dua hari yang lalu badannya panas kemudian dingin. Ia menunjukkan gejala-gejala seperti orang sakit. Aku yang baru saja belajar mengenai penyakit DBD dan mengetahui persentase tingkat DBD di kota ku ini membuatku khawatir.

Buat Anda yang ingin mengkoleksi novel Under 5k atau Under 20K new atau bekas langsung aja kunjungi lapaknya Party Novels Under 5K and Party Novels Under 20K

" Bu.. Ibu.. " panggilku pada ibu yang tengah memasak di dapur
" Bu..... Buuu.. " panggilku lebih keras. Namun ibu tak menyahut, mungkin ibu tidak mendengar, aku pun menuju ke dapur belakang, rupanya ibu tidak lagi memasak, namun ibu sedang mencuci piring, pantas saja ibu tak mendengar.
" Bu, ibu .. ibu ngerasa aneh nggak dengan tata? " tanyaku pada ibu, ibu memperhatikanku sekilas kemudian kembali melanjutkan cucianya
" aneh apa to nak? adik mu itu cuma lagi panas, mungkin pengaruh cuaca atau karna sering kamu ajak main jadi kurang istirahat. "
" lho bu, tapi Tata sudah panas sejak 2 hari yang lalu, apa ndak mungkin Tata terkena DBD? ada bitik-bintik merah pula di tubuhnya " kataku menjelaskan
" Bintik-bintik merah? masa sih? " tanya ibu kurang percaya " tunggu sebentar, nanti ibu lihat, tadi pagi ibu tidak melihat ada bintik-bintik merah di tubuh adik mu " ibu pun menyelesaikan cuciannya dan aku pun kembali menemani adikku

Ibu pun datang

" Tata, nduk sini.. " ibu meletakkan adikku kedalam pangkuannya. 

" mana nduk bintik-bintik merah yang kamu maksud? " tanya ibu ditujukan pada ku

" lha ini lho bu dilengan Tata, trus dibelakangnya sini, ini, ini, bintik-bintik kan bu? " jawab ku sembari menunjukkan beberapa bintik-bintik pada tubuh Tata.

" Adik mu nggak mungkin kena DBD. Mungkin kena campak kali ya? Apa perlu ibu periksa ke puskesmas? tapi ibu sekarang ndak ada uang nduk " Keluh ibuku

" bisa jadi Tata kena DBD bu. Aduh aku kemarin baca berita ada 6 balita yang telah meninggal karena DBD di tahun 2016 ini bu. Aduh jangan sampai Tata kena penyakit itu bu jangan sampai.. aku nggak mau kehilangan Tata bu. " Rengek ku

" hush! kamu kalau ngomong jangan sembarangan! belum tentu adikmu ini sakit! tunggu bapak pulang dari ladang, nanti ibu coba bicara dengan bapak. " Tegus ibuku, aku terdiam memperhatikan Tata, adikku

" Sudah sana nggak usah diperhatikan atau cemas terus. Adikmu pasti baik-baik saja. Biar sekarang adikmu kembali tidur jangan sering diajak main keluar. Adik mu lagi sakit, kamu berangkat ke sekolah segera sana! "

" Iya bu, aku berangkat dulu ya.. Ta, kakak berangkat dulu ya"

" Bu berangkat" aku pun salim dan pergi berangkat ke sekolah.

Sepulangku dari sekolah, tak kutemukan ibu dan ayah ku di rumah. Aku pun bingung kemana gerangan mereka? Tata pun tak ada. Tiba-tiba mpok min tetangga sebelah menghampiriku dan berkata, " Bapak dan ibu mu tadi pergi membawa Tata ke Puskesmas. Tadi aku berkunjung ke sini untuk mengantarkan syukuran lalu kulihat Tata, aku periksa sebentar. Aku yakin adikmu terkena DBD, aku adalah perawat, meski bukan dokter paling tidak aku memahami gejalanya. Syukurlah adikmu belum terlambat untuk di bawa. " Kata Mpok Min menjelaskan pada ku, awalnya aku sempat kaget namun syukurlah bila Tata belum terlambat di bawa maka sudah jelas Tata baik-baik saja.

" Terima kasih ya Mpok, tadi saya pun sudah memperingatkan ibu, namun ibu kurang percaya. Saya membaca berita kemarin lalu di sekolah, tentu saya khawatir akan Tata. Syukur ada Mpok Min yang menolong kami " 

" Ah tidak apa, kamu jangan khawatir lagi, tadi ibumu juga ngatakan hal yang sama. Masyarakat sekitar memang belum memahami sepenuhnya akan sebab dan akibat dari penyakit ini. Namun alangkah baiknya bila kita tidak menutup diri dan saling mengingatkan. Bukan begitu? "

" Iya Mpok, terima kasih lagi,. " kata ku penuh syukur

" Iya sama-sama, yauda berbenahlah. Ibumu pasti menjaga Tata. Aku kembali dulu ya "

" Iya mpok terima kasih. "

Sekian dahulu konversi teks kali ini.