12 : 21

10 Maret 2014

Malam begitu tenang. Udara pun juga bersahabat. Hari ini tidak ada hujan , cuaca begitu terasa sekali memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu yang positif. Jari - jari ini terus bergerak. Bergerak tak tentu arah. Diantara sekian banyak orang, jari-jari ini memang berbeda. Tuhan tidak mungkin menciptakan makhluk ciptaanya dengan serupa. Tuhan memang adil, namun Tuhan maha kuasa dan maha penyayang. Tidak ada satu pun ciptaannya yang sama. Bahkan bayi yang terlahir kembar pun akan memiliki perbedaan .

Hari semakin gelap. Waktu terus berjalan. Hampir saja semua berlalu dan menginjak kan pada tanggal 11 Maret di tahun 2014. 11:26 di saat waktu ku mengetikkan jari-jari ku. Membiarkan semua yang ada di fikiran serta hati tertumpah begitu saja disini. Ini bukan tempat curhatan , namun ini tempat untuk ku menulis apa yang ingin aku tulis ( Apa bedanya? )

Aku tidak bisa bedakan mana perasaan bahagia dan mana perasaan sedih. Aku hanya bisa mengerti bagaimana rasa sakit dan bagaimana perasaan yang tidak sakit. Aku senang saat mendapat kabarnya, aku senang saat mendapatkan setiap fotonya, aku senang bertemu dengan orang sepertinya. Tapi aku tahu, di balik itu aku punya rasa sakit. Aku sakit ketika bibirku tak bisa mengucapkan apa yang ingin aku ucapkan. Aku sakit ketika mata ku membaca serta melihat sesuatu yang membuatku sakit. Aku sakit ketika aku tidak ingin mengetahui sesuatu. Tidak. Seharusnya aku tidak begini . Seharusnya aku meninggalkan semua yang ada di masa lalu. ~

Aku memang sudah meninggalkan apa yang ada di masa lalu. Aku menutup satu persatu akun ku yang pernah aku gunakan untuk iseng. Aku tidak pernah lagi berniat untuk membukanya karena aku tahu itu hanya masa lalu. Apa yang buruk harus di tinggalkan dan di gantikan dengan hal baru yang akan kita perbaiki di masa yang akan datang. Semua pesan yang pernah ada hendak aku hapus. Awalnya aku tidak ingin untuk menghapus semua itu. Tapi aku tahu, ada sesuatu disana , di masa depan yang sedang menantiku.

Memang benar sudah saat nya aku memulai kembali. Bukan untuk hal yang seperti tahun-tahun lalu aku lakukan. Hari terus saja berlalu *eh? Waktu mungkin yang terus berlalu. Sampai kapan aku terus begini dan begini saja? Mungkin memang sudah waktunya aku tidak diam lagi membisu.~

Waktu terus saja berjalan dari sejak aku mengetik kan apa yang ingin aku ketik. 11:35. sudah berapa menit yang terbuang namun aku masih saja diam untuk mengetik sesuatu yang tidak jelas?
Apa ini termasuk dalam sesuatu yang tidak jelas? Lalu apa yang jelas? Bagaimana dengan perasaan ku? Apa kah perasaan ku ini sudah jelas?

Satu perasaan yang selalu aku takutkan adalah perasaan yang kini sedang aku rasa. Aku takut untuk mengatakannya. Aku masih kecil. Aku bukan sudah dewasa. Aku masih kecil. Seharusnya dalam pikiranku hanya ada sekolah , sekolah , dan sekolah. Belajar, belajar , dan belajar. Tapi kenapa harus ada perasaan ini? Aku pikir hati ku sudah aku tutup rapat-rapat untuk tidak lagi tahu menahu tentang semua itu. Tapi aku kembali labil dan sering tidak jelas. Aku kembali untuk sering lebih mengutamakan emosi ku dari pada mementingkan perasaan orang lain . Ego ku terlalu tinggi. Sampai kapan aku akan terus begini?

Cinta..
Kenapa perasaan itu harus ada ketika aku tidak lagi ingin untuk memikirkannya? Kenapa Tuhan datang kan dia terlalu cepat? Apa jalan Tuhan untuk ku? Sampai sekarang aku masih saja bertanya-tanya. Sering aku mengulang pertanyaan yang sama. Aku tidak suka dengan perasaan ini. Perasaan yang hanya mengekang ku gara-gara mulutku sendiri lah yang tidak bisa berkata sesuai dengan isi dalam hatiku.

Aku tidak tahu apa orang seperti ku ini pantas untuk menerima cinta. Aku tidak tahu apakah aku masih layak disebut manusia. Aku tidak tahu apa kah aku harus kembali kepada diriku yang dahulu? Diriku 2 tahun yang lalu? Aku cukup tahu bagaimana rasanya sendiri. Bagaimana rasanya tidak memiliki teman. Mungkin apa yang aku rasa tidak sama dengan apa yang orang lain rasakan. Aku tahu bagaimana rasanya di kucilkan hanya karena perbedaan. Aku tahu bagaimana rasanya di hina orang. Aku tahu bagaimana rasanya ketika di maki orang. Aku tahu bagaimana rasanya di leceh kan. Aku tahu bagaimana rasanya ketika tidak ada lagi orang yang ingin mendekat dengan kita. Aku juga tahu bagaimana pandangan orang yang sedang meremehkan kita. Aku tahu bagaimana rasanya saat diri hanya seorang diri dan tidak ada teman lalu duduk dalam pojok kelas, atau tidak hanya di kelas, namun di suatu komunitas yang akhirnya menjadi kan ku minder dan tidak berani lagi untuk bertemu dengan orang lain. Aku jadi penakut. Aku jadi cengeng. Aku jadi pribadi yang menjauh dari kata " sosialisasi " Aku tidak ingin menjadi makhluk yang sosial. Aku seperti membentuk dunia ku sendiri. Dunia yang hanya ada aku serta Tuhan yang kala itu seperti tak pernah mendengar seruan doa ku. Aku tahu rasa dari semua itu. Bahkan cukup tahu dari apa yang pernah aku alami. Itu semua yang membuatku tak berani lagi mengungkapkan apa yang aku rasa. Setiap hinaan yang kala aku kecil tertuju padaku hanya bisa aku timbun dalam hati. Kala aku mengingatnya, hanya tetes air mata yang menumpuk dalam mataku lah yang menimbulkan reaksi serta hati yang begitu sakit kala ku mengingat atau teringat. Tidak peduli kata orang, karena semua akan sama saja~ Doa kan Doa kan Doa kan serta Serah kan sungguh hanya kata-kata yang klasik.

Entah apa ini sebuah jawaban dari Sang maha kuasa? Hampir tiap malam dan pagi aku berdoa. Berdoa pada Bapa di surga. Aku berdoa untuk suatu hal. Semua yang ada di masa lalu sudah ku maaf kan, namun sakit hati serta kenangan itu belum bisa hilang. Aku terus berdoa agar seiring berjalannya waktu, Tuhan berikan aku keikhlasan serta kenangan baru yang lain agar aku dapat melupakan hal buruk dalam hidupku yang pernah ada.

Ku syukuri atas satu persatu perubahan dalam diriku yang lebih baik dari pada yang dahulu. Aku ucapkan syukur pada Tuhan bahwa aku bisa menjadi pribadi yang baik. Lama aku merenung kembali, ternyata aku salah. Aku belum sepenuh nya berubah. Aku masih saja ingin memenangkan ego ku. Kapan semua akan berhenti? Nasihat demi nasihat terus lah ada, namun tetap saja aku masih sama menjadi pribadi yang tak bisa mengerti bagaimana perasaan orang lain. Kapan mulut ini dapat mengucapkan apa yang ada dalam hati serta apa yang ingin hati ucapkan? Sampai kapan mulut ini seperti terdapat rem yang terkadang dapat berhenti seketika? Sampai kapan?

Dunia terus berputar, waktu terus berjalan. Kini jam menunjukkan pukul 11:54. berapa lama aku terus mengetik dan berhenti disini saja tanpa bertindak? Aku tidak tahu lagi mana yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku tidak tahu apa yang ingin aku perbuat. Aku tidak tahu mana lagi yang benar dan mana yang salah.

Ku punya seorang teman, teman perempuan yang selalu ceplas-ceplos dan hanya memikirkan perasaannya. Namun kadang dia juga dapat mengerti perasaan orang lain. Aku ingin seperti dia yang bisa mengungkapkan apa yang aku rasa. Aku ingin bisa mengucapkan apa yang ingin aku ucapkan. Aku ingin mengungkapkan kata yang kala itu membuat hati ku gundah. Aku ingin mengucapkan kata yang membuat hati ku senang. Aku ingin mengucapkan kata yang membuat hati orang lain menjadi bahagia. Aku ingin mengucapkan segala apa yang aku rasa. Tapi, AKU TIDAK BISA :(

Apa mungkin bukan tidak bisa namun hanya saja aku tidak ingin? Tapi jika tidak ingin mengapa aku sampai begini? Aku seperti tersiksa kala aku didiam kan. Aku seperti terkurung dalam perasaan ku sendiri kala aku tidak tahu lagi harus mengucap kan kata apa. Aku bingung. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Hanya pertanyaan saja yang terus muncul. Sampai kapan? Sampai kapan?

Pernah ku baca sebuah kumpulan cerpen. Salah satu dari cerpen itu menceritakan, bahwa kala kita menulis sebaiknya dalam ke adaan senang. Maka segala yang kita tulis akan membuat sebuah cerita bahagia yang menarik. Tapi aku lebih susah jika aku di harus kan menulis dengan perasaan senang serta memikirkan hal-hal yang indah. Kadang kala memang bisa, hanya saja kata yang tertulis tidak pernah sampai sepanjang apa yang ingin aku tulis saat sedang dalam perasaan tak menentu.~

Hari ini sepertinya aku kembali melukai perasaan seseorang. Seseorang yang entah bisa membuat perasaan ku menjadi tidak karuan. Perasaan ku seperti di buat main-main olehnya. Aku lebih sering mengatakan apa yang tidak sesuai dengan hati ku padanya. Aku masih ragu apa kah semua itu sungguh dari hati ku atau tidak? Jadi setiap pertanyaan yang dia ajukan akan aku jawab dengan jawaban yang mungkin seketika membuat hatinya jadi down . Aku tidak tahu apakah aku sudah jatuh cinta. Aku masih kecil. Aku masih dini. Tidak pantas aku mengatakan cinta pada orang yang lebih dewasa dari ku. Aku tidak tahu tentang kehidupan. Aku tidak tahu tentang arto Hidup. Jadi aku memang tidak tahu apa- apa. Aku hanya tahu sebatas apa yang mampu aku tahu. Terkadang aku bisa tahu apa yang ia maksud. Aku tahu apa yang ingin dia katakan. Aku tahu apa yang ingin dia ungkapkan. Tapi kenapa aku sendiri tidak bisa mengungkapkan atau hanya memberikan sinyal sedikit saja agar dia pun tahu apa yang aku rasa? Aku sendiri tidak tahu apa kah dia selalu membaca tulisan yang aku buat atau kah tidak. Aku tidak tahu bagaimana kesehariannya karena aku lah yang lebih banyak mendominan untuk bercerita *menurutku* . Aku hanya bisa diam kala dia menelpon ku. Aku hanya bisa diam kala dia bertanya dengan ku. Aku hanya bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan melalui tulisan..

Hari ini aku seperti kembali membuat kesalahan. Seharusnya aku tidak perlu menampakan emosi ku yang ada. Seharusnya aku tidak membahas apa yang ada di masa lalu. kemana diri ku yang dahulu berada? Kemana diriku yang tidak ingin menengok ke belakang? Kemana diriku yang dulu? Kemana?

Hari sudah berlalu. Waktu menunjukkan pukul 12:09. Berapa lama sudah aku mengetik? berapa lama juga aku sudah berdiam? Email nya sudah aku baca. Namun masih saja sama. Aku tidak bisa atau mungkin tidak tahu lagi apa yang ingin aku ungkapkan. Aku tidak tahu ingin membalas nya dengan apa. Aku tidak tahu kata apa yang hendak aku ketik. Aku tidak tahu. Sungguh aku tidak tahu.
Tapi sampai kapan aku diam begini seperti orang bodoh dan dungu?

12:11 ah sudah pagi, sudah memasuki hari selasa dan tanggal 11 Maret tahun 2014. Apa yang harus aku lakukan aku tahu. Ungkapkan saja~ kata yang cukup simpel. Tapi aku takut. Aku takut jika aku salah. Aku takut jika aku akan nantinya kelewatan. Aku takut terjebak akan masalah yang sama. Aku takut. Aku takut.

Terlalu banyak rasa ketakutan. Bodoh diriku ini . Bodoh!

Sudah hampir satu jam sejak aku mengetik apa yang ada di pikiran ku, namun aku masih saja terpaku di depan laptop yang baru saja di berikan oleh papa setelah janji yang lumayan membuat ku menjadi anak yang selalu menuntut~

Apa yang harus aku lakukan?

Perasaan ku kini telah pulih. Aku tidak lagi merasakan gemuruh emosi yang membuat aku merasa tidak karuan. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Bertindak pun tidak bisa. Sepertinya tokek yang ku punya hari ini sedang sibuk dengan kawannya dan tidak bersuara kembali untuk menenangkan hatiku. Hujan pun kini tak lagi turun. Kemana semua itu? Kemana lagi aku harus bertanya? Tak aku punya teman yang seperti dulu. Teman yang menjadi tempat ku bercerita. Dua teman yang baik. Seorang teman yang begitu polos dan selalu ada untuk ku. Di tambah dengan seorang lagi yang selalu ada ketika aku ingin menghubunginya sampai pulsa ku sendiri habis hanya untuk mendengarkan dia bercerita atau aku yang bercerita.

Waktu terus berjalan tapi aku masih saja diam. 12.18. Jika memang hati dapat berbicara, aku harap hati ini lah yang dapat menjadi perwakilan dari apa yang ingin aku ungkapkan. Jika memang semua tak lagi bisa di mengerti, biarlah perasaan ini tetap di hati ini. Di hati yang tak tahu sampai kapan akan terus kosong. ~

Hati ku memang tak kosong sepenuhnya~ karena semua telah ada tempat - tempat masing-masing serta telah ada yang memilikinya. Papa , mama, Adik-adik ku, kakak - kakak ku, teman- teman ku, dan tersisah satu . Untuk orang yang memang akan mengisinya~ di kala waktu yang tepat.

Selamat Pagi di hari selasa tanggal 11 di bulan maret pada tahun 2014 :)