Merenung Lagi



Malam ini kembali aku merenung. Entah mengapa aku tidak seperti biasanya. Tidak henti-hentinya kamu terus muncul dalam pikiran ku. Beberapa pertanyaan muncul dalam benak ku, namun aku tidak dapat mengetahui jawaban yang pasti.

Pada malam yang lalu, kamu memberi aku sebuah kata-kata. Entah juga apa maksud dari kata-kata mu. Aku save pesan panjang mu itu. Aku simpan dan aku renungkan kembali. Namun masih tetap sama, aku masih tidak dapat mengerti, mungkinkah aku terlalu bodoh?

Tidak ada jalan lain, maka aku kembali pada teman-teman dekatku. Teman - teman yang selalu setia mendengarkan cerita ku. Teman yang selalu memberi aku nasihat agar aku tidak salah melangkah. Teman yang dengan sabar akan menghadapi serta menemaniku di saat -saat susah maupun senang ku. Ya mereka dua orang teman yang abstrak namun aku sayang. Kembali pada awal, akhirnya aku bercerita dan menanyakan pendapat mereka. Namun jawaban yang mereka beri membuat aku berfikir ulang,mungkin jika dalam bahasa alaynya. berfikir keras?

Kali ini aku tidak yakin dengan apa yang teman-teman ku katakan, serta aku sungguh tidak percaya pada pendapat mereka. Mungkinkah benar apa yang mereka kata kan itu, bahwa kamu memiliki rasa pada ku? Atau memang aku yang tidak terlalu peka serta aku yang selalu menutup mata dan telinga ku maka aku tidak dapat menangkap maksudmu? Lalu harus bagaimana kah aku?

Mungkin ada sedikit kesalah pahaman di antara kita. Aku memang tidak sendiri, aku memiliki banyak teman yang selalu bersama ku dan juga yang selalu dekat dengan ku, entah itu laki-laki ataupun perempuan. Namun jangan pernah salah arti, bahwa aku sedang terikat oleh suatu hubungan khusus dengan pria lain. Entah mengapa juga teman-teman ku menangkap maksudmu itu,maksud yang aku sendiri tidak memahaminya.

Memang mungkin aku yang terlalu bodoh. Bodoh tidak dapat mengerti mengenai perasaan sekitar ku. Bodoh tidak dapat peka dengan apa yang ada. Bodoh dan bodoh. Namun apa yang harus aku lakukan? Aku tidak dapat memahami maksudmu, maksudmu yang abstrak membuat aku semakin tidak dapat memahamimu. Kamu yang masih terikat dengan orang lain, menyatakan hal yang entah apa yang tidak dapat aku mengerti.

Di saat seperti ini lah aku merasa terjebak. Terjebak oleh perasaan ku sendiri, terjebak oleh tingkah kusendiri. Terjebak oleh kata-kata ku sendiri. Lalu kamu memasuki nya, menambah semuanya. Hingga pada titik dimana terdapat warna hitam yang tebal yang merupakan suatu dinding pembatas diantara aku dan kamu. Lalu, harus bagaimana kah aku menyikapinya?

Entah magnet apa yang ada pada kamu, sehingga membuat aku melangkah kan kaki ku pada sebuah ruangan dimana kamu berada. entah mengapa hingga aku rela untuk keluar pada zona nyaman ku. Kamu bertanya pada saat itu, namun aku sendiri sebenarnya tidak dapat tahu apa jawaban yang aku miliki? Maka dari itu hingga sekarang aku masih memikirkannya.

Seperti biasanya saat - saat waktu untuk kembali ke rumah telah tiba. Dan seperti biasanya pula aku duduk untuk menunggu suasana sekolah yang sepi lalu aku kembali pulang pada tempat tinggal ku. Aku menunggu di depan sebuah ruangan yang tidak terlalu tejamah oleh orang lain. Lalu disaat aku tengah asyik membaca buku bacaan ku, aku teringat akan sebuah file yang kamu beri dan kirim kan pada ku. Aku putar berulang-ulang file  itu hingga saat dalam perjalanan pulang dan sampai di rumah, hape ku tidak berhenti melantun kan apa yang ada.

Teman-teman ku memberikan pendapat agar aku mencari tahu apa yang kamu maksud. Siapa orang ke tiga yang kamu maksud. Ini yang lebih membuat aku tidak dapat memahamimu. Jadi harus bagaimana kah aku? Tidak mungkin juga aku aka bertanya pada kamu. Pada kamu yang tidak sendiri. Pada kamu yang terkadang lebih membuat aku bingung kembali. Dan pada kamu yang hanya selalu memberikan senyuman di saat aku memiliki petanyaan yang harus aku ketahui jawabannya. So, what I can do?

Jika semua itu benar, lalu apakah yang kamu mau? apakah yang kamu ingin kan?

Aku bukan tidak percaya pada kamu, namu aku masih tidak memiliki rasa kepercayaan pada diri ku sendiri, maka dari itu aku membatasi diri dengan orang lain. Ada beberapa hal yang telah aku alami dan itu tidak sama seperti yang kamu alami. Namun kamu selalu menyambungkan nya pada agama. Aku yang tidak tahu harus bagaimana menjadi hanya dapat mendengarkan setiap nasihatmu. Tapi jangan lah kuatir, akan aku simpan semua itu, lalu aku pikirkan. Namun tidak akan aku lakukan sekarang. Aku membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk melalui proses ini.

Jika apa yang teman-teman ku katakan benar, maka masuklah. Ganti lah apa yang peru di ganti. Rubah lah apa yang perlu di rubah. Pindah kan apa yang perlu untuk di pindah kan. Perbaiki apa yang perlu untuk di perbaiki. Tetap lah disini, maka akan aku berikan sebuah tempat khusus seperti kedua teman-temanku dalam setiap lembaran hidupku. Namun jika tidak, aku akan tetap mengizinkan mu masuk, namun tidak akan sampai dalam. hanya pada batas-batas tertentu , akan aku berikan tempat juga pada setiap lembar hidup ku bersama teman-teman lain yang pernah ada. Tetapi satu, jika kamu ingin menetap, maka jaga lah satu hati yang memiliki satu kepercayaan pada awalnya ini dengan sendirinya,jangan pernah bawa orang lain juga turut masuk bersama kamu yang ingin masuk. Namun jia tidak, Kamu tetap bebas melakukan apa saja bersama orang yang kamu ingin kan mungkin orang yang bersama mu saat ini.


0 Response to "Merenung Lagi"

Post a Comment

Harap Komentar Dengan Sopan dan Tidak Mengandung SARA atau SPAM
Untuk pasang Iklan contact stefanikristina@gmail.com