Kelinci Tetaplah Kelinci

Sering kali ucapan itu berbeda dengan apa yang ada..

Tak ingin aku menghakimi apa yang ada. Tak ingin aku mengatakan apa yang belum pasti. Tak ingin aku mengetahui apa yang bukan urusan ku. Tak ingin aku melangkahkan kaki tanpa tujuan yang belum jelas. Intinya cukup dengan aku melihat kamu hai seorang laki - laki dengan mulut yang manis, yang dahulu pernah singgah dalam hidup teman ku, namun pergi begitu saja dengan kata-kata serta semua kenyataan yang kamu putar balikkan itu. Kini aku tahu, tidak dapat aku percaya satu kata pun yang keluar dari mulut mu itu.

Semakin manis kamu berbicara , maka semakin bagus pula kenyataan yang berada di balik kebohongan yang kamu buat. Tak aku memiliki rasa marah pada kamu , tak aku miliki rasa kecewa pada kamu. Tak aku miliki rasa apa pun pada kamu secara berlebihan. Namun dengan semua sikap mu pada teman ku, membuat aku kembali membuka mata dan berusaha tidak menyesali yang ada karena aku tahu bahwa memang aku salah jika memihak pada sisi hanya sebelah saja.

Aku tahu pada tangan kanan ku terdapat teman ku yang pernah berbuat salah pada kamu. Dan aku tahu pada tangan kiri ku terdapat kamu yang dengan gampang nya kini bersama orang lain meninggalkan teman ku, meninggalkan semua kenangan yang ada bersama teman ku, meninggalkan bekas luka yang entah bagaimana teman ku rasa kan semua itu. Aku tahu aku tak seharus nya melakukan semua ini. Aku tahu aku berlebihan dalam menyusun kata. Namun aku kini hanya dapat mengatakan bahwa aku sadar bahwa hampir semua kelinci itu bermerk sama.

Pada awalnya aku memiliki perasaan yang ganjal dengan melihat sikap kamu pada teman ku, mengetahui setiap kata-kata mu, Melihat setiap gerak mata kamu saat kamu datang kerumah ku untuk menyerah kan cincin kenangan kalian. Aku memiliki rasa itu sebagai seorang teman yang telah dekat dengan teman ku serta dengan kamu. Tapi tak berani aku memiliki praduga yang tidak-tidak dengan kamu yang dahulu milik teman ku dan yang dahulu aku kira setia namun di balik semua itu kamu berkhianat  tak beda jauh dengan dia teman ku.

Kini aku bersyukur mengetahui kalian , kamu dan dia telah berpisah dan tak bersama lagi. Tapi juga tak ku harapkan kamu dan dia terus bertengkar. Aku tak ingin kalian memiliki hubungan terlau jauh meski kalian memang telah melakukan hubungan yang terlalu jauh, sejauh dari batas yang ada, melampaui dari garis yang terlarang. Tapi aku tak ingin kalian masih begitu meski juga tak ku ingin kan kalian putus dan hilang kontak begitu saja. Mengerti lah, aku cukup kecewa dengan melihat perubahan status yang ada dinding kamu sedangkan perasaan teman ku kamu hiraukan.

Cukup aku mengerti bahwa teman ku lah yang memulai semua ini. Tak ku salah kan juga kamu yang ingin memiliki pengganti yang lebih baik. Tapi tak ku harapkan juga semua akan berakhir seperti iini. Seperti kamu dan dia lalu orang ketiga yang tak aku tahu siapa itu. Mungkin kata terkahir ku aku hanya bisa cukup memahami kalian, dan aku berharap kalian dapat mendapatkan pelajaran yang sesuai dengan apa yang telah kalian perbuat . 109