Ketika Aku Terikat Olehnya







Pada tulisan kali ini saya ingin menggunakan kata " saya " tidak " aku ". Kalau pada tulisan-tulisan sebelumnya saya menggunakan kata " aku", kali ini saya ingin menggunakan kata " saya ". Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi yang membaca dan saya harap tulisan ini dapat dibaca dengan hati yang damai.


Beberapa hari yang lalu saya sempat ingin berhenti untuk 'terikat' pada sebuah surat. Di awal saya telah menandatangi sebuah surat dimana saya nantinya akan bersedia ditempatkan dimana dan diberikan sesuai kebutuhan dan sebagainya sesuai dengan isi perjanjian yang ada. Oleh karena itu saya katakan bahwa saya ' terikat pada sebuah surat '.

Setelah mencari informasi dan bertanya pada orang-orang yang lebih mengerti dari saya, akhirnya saya putuskan untuk kembali melanjutkan ' keterikatan ' ini. 

Kemudian saya bercerita pada sahabat saya melalui telephone. Kebetulan juga dia yang telfon usai saya berbicara dengan seseorang. Lalu, akhirnya muncullah ide tulisan ini, " TERIKAT " . Mungkin sebagian bertanya-tanya, 'kok bisa?' 'bagaimana bisa?' 'apanya sih yang terikat?' 'apa sih yang dimaksud?'.

Judul ini saya dapat ketika saya bertelfon dengan teman dan di tengah pembicaraan kami yang membahas mengenai ' PAMEO MASYARAKAT ', akhirnya terlintas dibenak saya kata " TERIKAT ".

Salah satu alasan saya kenapa ingin mundur karena seseuatu yang mengikat saya ini memiliki sisi minus  menurut pandangan orang tua saya. Ketika saya memikir kannya, semua ini kembali pada " PAMEO MASYARAKAT ", mungkin karena apa yang saya lakukan ini tidak semenarik teman-teman saya yang telah bekerja dengan pekerjaan yang gajinya 3jt++ atau teman-teman saya yang kuliah di kampus ternama dan sebagainya. Sepertinya tidak ada yang dapat saya banggakan. Bahkan saudara saya pun membicarakan saya dari keluarga satu ke keluarga lainnya.

Inilah yang kadang membuat kita susah untuk keluar dari ikatan dunia. Harusnya kita memandang sang pencipta bukannya memandang dunia tapi tanpa kita sadari kadang kita lebih takut dengan pandangan masyarakat bukan pada Tuhan.

Pernah seorang bapak-bapak bertanya pada saya saat saya mengurus surat.. percakapan singkat seperti ini ..

B : Bapak
S : Saya

B : " Kelas berapa dek ? "
S : " Sudah lulus sekolah pak ? "
B : " Lulusan SMP dek? " sambil mandangin heran tentunya
S : " Bukan pak, maksudnya tamat sekolah, sudah sampai SMA "
B : " Ohh, kuliah ? "
S : " Belum pak, sekarang masih cari kerja "
B : " Kuliah lah mbak, kuliah itu penting, jangan males-males belajar " 
S : (cuma senyum doang, sambil nungguin bapaknya selesai memberi nasehat)

Btw, bisa jadi memang ini hanyalah percakapan yang 'biasa' tapi coba kalau di teruskan. Misal kemudian saya kuliah, setelah lulus kuliah, maka pertanyaan selanjutnya adalah " KAPAN KAMU KERJA ? " setelah kita dapat pekerjaan yang layak, bagus, dan lumayan lah ya.. pertanyaan selanjutnya " KAPAN KAMU NIKAH ? " yang nantinya akan berderet mempertanyakan status hubungan sosial kalian seperti " SUDAH PUNYA PACAR BELUM? " atau " SUDAH PUNYA CALON BELUM ? " . Kalau kalian kelamaan nikah akan muncul kata lagi yaitu " PERAWAN TUWEK " ( PERAWAN TUA ) ini kalau cewek ya.. Dan tidak menutup kemungkinan orang tua kita akan merasa khawatir dan mulai terus mendesak untuk melakukan sesuatu yang nantinya dapat sesuai dengan PAMEO MASYARAKAT. 

Disini saya sedikit menyambungkan pada konsep bersyukur dan manusia. Ada yang pernah mengatakan pada saya bahwa manusia itu pada dasarnya tidak akan pernah puas. Sudah dapat gaji 2 juta, cukup, lihat teman dapat 3 juta jadi bingung cari lagi pekerjaan lain yang bisa dapat 3 juta. Sudah punya handphone bagus, eh masih kurang minta laptop, dan seterusnya. Bukankah ini seperti konsep manusia yang tidak pernah puas? 

Hmmm tapi terlepas itu semua, saya juga manusia yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Ketika saya hendak memilih dan melakukan sesuatu saya kembali berdoa pada Tuhan. Karena tidak ada tempat selain Dia yang menciptakan kita yang dapat mendengarkan kita. Siapa sih kita? Kita bukan siapa-siapa tanpa campur tangan-Nya. 

Tiba-tiba terlintas dibenak saya apakah ada dampak positif dari PAMEO MASYRAKAT? Tapi di next post saja saya membahasnya. Apabila ada masukan mengenai dampak positif dari PAMEO MASYARAKAT, kalian bisa meninggalkan komentar atau mengirimnya via email stefanikristina@gmail.com atau line @cmeyfang . Jangan lupa ya follow instagram saya di @stefanikristina.

- Mohon maaf apabila ada salah kata dan perilaku. Apabila ada yang kurang berkenan bisa menghubungi via email stefanikristina@gmail.com
- Penulis masih belajar untuk kembali menulis..


Salam Stefani