Strategi Mengatasi Stress ( COPING STRATEGY )

Haii. . Akhirnya saya bisa menyelesaikan 1 modul lagi, dan modul 3 saya terselesaikan juga. Meski dalam nilai kali ini tidak terlalu tinggi, tapi baru modul ini saya bisa buat rangkuman yang mayan lah 😁 Seengganya bisa saya sharekan untuk Anda para pembaca setia blog @nifafani. .




Strategi mengatasi stres (coping strategy) adalah semua bentuk perilaku dan / atau pengetahuan seseorang yang bisa digunakan untuk mengatasi situasi yang menimbulkan stres. Secara umum, strategi mengatasi stres bisa dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu 

(1) strategi mengendalikan stres (control strategy) 💚 yaitu upaya yang dilakukan secara langsung untuk mengantisipasi atau mengatasi persoalan stres. 🙋Sebagai contoh, apabila organisasi tempat Anda bekerja merubah kebijakannya dengan mengadopsi market culture yang berarti Anda dituntut lebih kompetitif sementara Anda sendiri adalah tipikal orang yang kooperatif, tentunya perubahan ini akan
menyebabkan Anda merasa tertekan dan ujung-ujungnya boleh jadi Anda mengalami stres. Jika Anda merasa tidak bisa menyesuaikan diri dengan budaya baru dan Anda lebih memilih pindah kerja ke tempat kerja atau organisasi yang lebih kondusif maka Anda menerapkan control strategy

(2) strategi menghindari stres (escape strategy) 💚 yakni menghindari atau 🙅mengabaikan masalah yang menimbulkan stres. Jika Anda secara pasif mau menerima situasi yang menimbulkan stres atau Anda menghindari konfrontasi secara langsung 🙋misalnya dengan karyawan yang sangat menjengkelkan maka upaya Anda disebut sebagai escape strategy;
(3) strategi mengelola gejala stres (symptom management strategy) adalah upaya mengatasi stres dengan cara melakukan relaksasi, meditasi atau olahraga.

NB : Kalau saya lebih suka cara ketiga di waktu waktu tertentu. . 😀

Manajemen Stress

Dampak negatif stres sangat bervariasi, mulai dari dampak psikologis, behavior, mental, dan fisik. Dalam kehidupan organisasi, dampak tersebut pada akhirnya akan berdampak pula pada diri karyawan dan organisasi. Bagi karyawan, dampak paling sederhana adalah menurunnya produktivitas dan kepuasan kerja, sedangkan dampak yang lebih jauh adalah sakit fisik berkepanjangan karena stroke, misalnya atau sakit psikis karena depresi. Keduanya- stroke dan depresi boleh jadi tidak hanya
menimpa karyawan yang bersangkutan, tetapi juga menimpa keluarganya.

Jika seseorang sakit berkepanjangan dan tidak bisa bekerja lagi atau harus mengambil cuti dalam waktu cukup lama, akan berakibat pada berkurangnya income yang berarti pula keluarga harus ikut menderita, syukur kalau tidak sampai ikut mengalami stres. Sementara itu bagi organisasi, persoalan stres yang dihadapi karyawan secara langsung maupun tidak pada akhirnya juga mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan. Jika karyawan sakit, misalnya dan perusahaan harus menanggungnya maka biaya kesehatan perusahaan tentunya akan meningkat. Mengingat dampak negatif stres sangat besar namun di saat yang sama stres sesungguhnya tidak perlu dihindari atau ditakuti maka langkah terbaik berkaitan dengan stres adalah mengelola stres itu sendiri yang disebut sebagai manajemen stres. Pada dasarnya manajemen stres merupakan upaya sistematis baik upaya yang bersifat proactive maupun reactive untuk mengurangi negative stress. Upaya tersebut bisa dilakukan secara individual maupun organisasional.


Manajemen Stres secara Individual

Sebagai orang yang telah dewasa, seseorang sesungguhnya memiliki tanggung jawab terhadap dirinya atau paling tidak tahu bahwa dia seharusnya memiliki tanggung jawab kepada dirinya untuk hidup lebih sehat. Dia tidak perlu harus menunggu orang lain untuk meyakinkan dirinya akan nilai tanggung jawab, apalagi jika orang lain yang harus mengambil alih tanggung jawab dirinya. Demikian juga berkaitan dengan stres. Pada dasarnya stres adalah properti individual dalam pengertian apakah seseorang akan mengalami stres atau tidak sangat bergantung diri orang bersangkutan. Dengan demikian, manajemen stres bisa dilakukan secara individual.
Beberapa teknik khusus yang bisa dilakukan seseorang untuk mengeliminasi atau mengelola stres panjang yang tidak terhindarkan adalah sebagai berikut.

a. Manajemen waktu

Waktu yang kita miliki jumlahnya terbatas hanya 24 jam sehari dan kita tidak bisa merubahnya. Waktu yang terbatas tersebut tentunya harus dikelola dengan baik agar tidak muncul perasaan seolah-olah kita tidak memiliki cukup waktu, misalnya sekadar untuk bernapas, untuk memikirkan masa depan diri sendiri atau bercengkerama dengan keluarga hanya karena pekerjaan yang "dianggap" menumpuk. Untuk menghindari anggapan yang salah tersebut yang dibutuhkan adalah manajemen waktu. Maksud dari manajemen waktu adalah kemampuan untuk mengalokasikan waktu dan sumber daya berkaitan dengan pencapaian tujuan yang diharapkan.

Untuk mencapai tujuan, seseorang sesungguhnya tidak harus bekerja lebih keras tetapi lebih dibutuhkan kecerdasan. lstilah populernya adalah "work smarter, not harder - bekerjalah lebih cerdas, bukan lebih keras". Termasuk kecerdasan seseorang dalam bekerja, salah satunya bisa diukur dengan cara mengelola waktu. 

b. Relaksasi dan olahraga

Teknik kedua yang bisa dilakukan seseorang untuk mengatasi stres adalah relaksasi (perenggangan) untuk mengendurkan ketegangan syaraf dan otot-otot tubuh dan olahraga untuk memperkuat daya tahan otot-otot tubuh. Salah satu bentuk relaksasi yang paling sederhana dan murah adalah pijat bad an. Pijat bisa dilakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain. Di sela-sela kerja, 🙋misalnya seseorang bisa memijat-mijat sendiri bagian-bagian tubuh, seperti kaki, tangan atau punggung bagian atas untuk mengurangi ketegangan otot tubuh. Jika dibantu orang lain, memijat biasanya dimulai dari
💆kepala secara pelan-pelan bergerak ke bawah menuju leher, bagian belakang badan, tang an, dan kaki. Cara lain yang dewasa ini menj di tren bisa ditemukan di mana-mana, seperti di airport adalah pijat refleksi. 

Manajemen Stres secara Organisasional

Di samping secara individual, manajemen stres juga bisa dilakukan secara organisasional. Dengan demikian, upaya-upaya untuk mengurangi stres di tempat kerja dilakukan oleh pihak manajemen melalui programprogram yang sengaja didesain untuk mengurangi stres. Pihak manajemen juga bertanggung jawab untuk menata organisasi agar tingkat stres karyawan bisa berkurang sampai pada titik terendah. Beberapa program atau tindakan manajemen untuk mengurangi organizational stressor yang pada akhirnya bisa juga untuk mengurangi individual stressor adalah sebagai berikut.

a. Membangun budaya dan iklim kerja yang kondusif

Meski disadari bahwa persaingan bisnis dewasa ini semakin ketat yang secara berturut-turut pada akhirnya juga menuntut karyawan untuk mampu bersaing- dengan dirinya, ternan kerja maupun dengan perusahaan lain, dan menuntut karyawan berbuat lebih banyak dengan biaya lebih sedikit ðŸ™…bukan berarti karyawan bisa dibiarkan untuk mengatasi persoalan tersebut sendirian. Paling tidak pihak manajemen juga harus bertanggung jawab untuk menyiapkan budaya dan iklim kerja yang kondusif untuk mengurangi stres karena tuntutan kerja tersebut. Penciptaan budaya dan iklim kerja seperti ini 🙋misalnya bisa dilakukan dengan mengubah struktur dan proses organisasi yang memungkinkan karyawan memiliki keleluasaan dalam bekerja.

b. Membangun quality of work life (QWL) atau kualitas kehidupan kerja

Maksud dari dengan QWL adalah lingkungan kerja yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi karyawan.  Berdasarkan definisi ini, yang dimaksudkan dengan membangun QWL adalah menciptakan program, membuat kebijakan atau mendesain organisasi untuk meningkatkan derajat kesehatan karyawan baik kesehatan fisik, mental maupun ekonomi.Sederhananya, tujuan meningkatkan QWL adalah untuk membangun lingkungan kerja yang lebih manusiawi (humanized work environment) dengan harapan karyawan merasa nyaman dalam bekerja dan ujung-ujungnya sekali lagi berkurangnya tingkat stres. 

c. Mengurangi konflik dan memperjelas peran karyawan dalam organisasi

Seperti telah dijelaskan pada uraian sebelumnya, salah satu faktor yang menjadi penyebab stres adalah kebingungan karyawan dalam menjalankan tugas karena ketidakjelasan beban tugas, tidak adanya informasi yang jelas mengenai tugas tersebut dan/atau tidak adanya dukungan dari atasan dalam menjalankan tugas. Semua persoalan tersebut disebut role conflict (konflik peran) atau role ambiguity (ambiguitas peran). Untuk menghindari semua persoalan tersebut tentunya pihak manajemen harus menetapkan peran-peran apa yang harus dijalankan seorang karyawan. Salah satu caranya dengan membuat daftar tugas yang seharusnya dijalankan seorang karyawan dan selanjutnya daftar tugas tersebut diperbandingkan dengan harapan karyawan berkaitan dengan tugas yang akan dijalankannya. Jika ada perbedaan yang signifikan maka perbedaan tersebut bisa didiskusikan bersama (antara karyawan dan pemberi tugas) untuk menghindari kemungkinan timbulnya konflik di belakang hari.

d. Membuat perencanaan karier dan memberi konseling

Selama ini ada anggapan bahwa karier seorang karyawan akan ditentukan oleh karyawan itu sendiri tanpa campur tangan pihak manajemen. Boleh jadi anggapan ini tidak seluruhnya keliru karena seharusnya memang karyawan itu sendiri yang menentukan masa depannya. Namun, tidak jarang seorang karyawan tidak tahu bagaimana harus menyongsong masa depannya, apalagi jika jenjang karier di organisasi tempat kerja tidak jelas dan lebih ditentukan oleb pertimbangan politik ketimbang pertimbangan prestasi kerja. Situasi semacam ini tentunya akan menimbulkan ketidakpastian dan ujung-ujungnya stres. Oleh karena itu, pibak manajemen seharusnya terlibat dalam menyelesaikan persoalan karier tersebut, 🙋misalnya dengan memberikan bimbingan dan konseling dan memberi araban bagaimana seorang karyawan menentukan masa depannya. Kalau memang karyawan dianggap tidak bisa menapak ke atas karena keterbatasan kemampuan dirinya maka karyawan pun barus mengetabuinya sebingga dirinya bisa memperbaiki diri atau kalau tidak bisanya naik ke atas bukan karena kemampuan, tetapi karena sebab lain, misal karena antrian yang panjang maka karyawan mungkin bisa dipersilakan untuk berkarier di organisasi lain. Kejelasan seperti ini tentunya
tidak menjadikan karyawan frustrasi dan pada akhirnya bisa bekerja lebih baik, sebuah situasi yang baik bagi karyawan dan juga baik bagi organisasi. Dengan bahasa yang lebih sederhana, kejelasan karier seorang karyawan, dan bantuan konseling dari pihak organisasi akan membantu karyawan mengurangi stres. 😎👍

Sekian postingan dari saya kali ini. . Apabila ada salah kata dan perbuatan mohon dimaafkan. Apabila kurang berkenan dapat menghubungi via email. Sumber dari tulisan ini adalah buku Modul Perilaku Organisasi.

Terima kasih telah mengunjungi blog @nifafani. Tulisan ini hanya rangkuman semata, tanpa maksud apa-apa selain berbagi informasi cara mengatasi stress..

Mohon maaf apabila ada salah kata.