Frustasi

Surabaya, Juli

Beberapa bulan yang lalu aku pergi ke suatu tempat untuk meyakinkan someone than, aku bertanya - meminta izinkan bahwa aku ingin 'do something' di kota yang cukup jauh dari tempat tinggalku, Ponorogo.-



Masih ku ingat perasaan kala itu sepulang bertemu dengannya, panasnya terik matahari di kota pahlawan tidak membuat ku menyerah, namun justru membuat ku semangat. Sepanjang perjalanan aku diam memperhatikan jalanan kota kelahiranku. Hmm bagai cerita yang sebelumnya pernah aku buat, aku sedang dalam taksi sepulang dari kota perantauan menikmati panas teriknya siang dengan perasaan yang begitu yakin akan dunia yang sedang aku hadapi ini. aku bisa dan aku yakin bisa. but(?)

Saat itu aku sedang kecewa, marah, dan kesal dengan orang tuaku. Kemana mana dicurigai semua masuk kategori mencurigakan. Hingga aku pergi beberapa hari pun mereka curigai -- Aku pun kesal dan mempunyai niatan yang buruk-- a.k.a pergi dari rumah.

Niatan yang sudah lama terpendam bagaikan sebuah bom yang hendak meletus. Bisa tidak bisa, ya atau tidak, boleh atau tidak boleh aku harus keluar dari rumah. Tapi, kemana(?)

Juni - Juli - Agustus --

Curhat sana sini, konsultasi sana sini, minum obat ini itu. Bagaikan orang yang sudah tidak tahu arah. Orang kasih A terima A orang kasih B terima B dan seterusnya. Fani.. Are you oke?

Keputusan terakhir-- Pergi namun dengan cara yang baik.

Surabaya, Agustus 

Meminta restu orang tua, belajar dengan sungguh sungguh dan lalui hari dengan lebih bermakna.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

September , Ponorogo

bullshitt--

Semua yang sudah di tata dan di inginkan bagai cuma kata-kata belaka. Mana niatan mana kemauan mana dan mana yang sudah dijanjikan? Bukannya menjadi pribadi yang lebih baik justru menjadi pribadi yang berubah 1000000%

------ end------