Prestasi Membahagiakan

Prestasi Membahagiakan
Oleh : Warda Hikmatul Mardiyah
XII Multimedia 2 /29
SMK Negeri 10 Surabaya

Cahaya senja tersenyum, membentangkan cakrawala indah. Jingganya menyebar di angkasa raya. Suara nyanyian burung menemani kepergianku pergi ke sekolah. Hari ini adalah hari pertama mengikuti kegiatan LOS di sekolah baruku. Aku bersyukur bisa diterima di salah satu sekolah negeri di Surabaya yaitu SMK Negeri 10. Aku mengambil jurusan Multimedia. Salah satu jurusan dengan nilai tertinggi di sekolah ini. Sangat mudah aku masuk jurusan Multimedia karena nilaiku yang cukup tinggi. Saat ini aku belum mempunyai teman baru dan masih malu jika harus SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), sehingga aku memilih barisan belakang. Aku mendengarkan pengarahan dari kakak OSIS. Lalu, seluruh murid baru termasuk aku mulai berjalan masuk ke aula. Selanjutnya aku mengikuti kegiatan LOS pertama hingga selesai.

            LOS hari kedua aku masih belum mempunyai teman baru dan tetap berdiri di barisan belakang. Kegiatan LOS kali ini tidak kalah membosankan dengan LOS kemarin. Hari ketiga LOS, aku menjalani tes penentuan kelas. Saat ujian berlangsung ada seseorang yang memanggilku. Dengan hati-hati aku menoleh ke belakang, ternyata seorang cowok yang memanggilku tadi. “Hai maaf. Kamu tau jawaban nomor lima?” tanya cowok itu kepadaku.
“Ya aku tahu, kenapa?” jawabku dengan pelan.
“Apa jawabannya?” tanya dia lagi.
“Jawabannya A” jawabku kesal.

“Ok terimakasih”. Lalu aku mengerjakan kembali soal ujian yang sempat tertunda tadi. Sepuluh menit sebelum waktu ujian selesai, aku sudah menyelesaikan soal ujian itu. Kemudian aku keluar kelas dan menuju ke kantin. Di kantin aku memesan mie ayam dan es teh.  Saat aku sedang asyik makan, tiba-tiba cowok yang memanggilku saat ujian tadi datang menghampiriku. “Hai, boleh aku duduk di sini?”

“Iya silahkan”. lalu cowok itu duduk di depanku. Saat makananku hampir habis, cowok itu berbicara lagi. “Kalau boleh tahu nama kamu siapa? Namaku Achmad” sambil mengulurkan tangannya.
“Namaku Zahra” aku membalas uluran tangannya.
“Kamu dari SMP mana?”
“SMP Negeri 18” jawabku singkat.
“Oh. Aku dari SMP Negeri 15”
“Oh. Maaf aku harus pamit pulang”. Aku berdiri meninggalkan cowok aneh itu.
“Hati-hati di jalan ya”

            Hari ini adalah pengumuman  hasil tes penentuan kelas. Aku berjalan menuju papan pengumuman yang ada di depan perpustakaan. Aku mencari namaku di deretan jurusan Multimedia. Perasaan terkejut sekaligus senang karena namaku ada di daftar nama kelas X Multimedia 1. Aku bergegas mencari kelas Anggrek 1. Setelah cukup lama mencari, aku menemukan kelas itu dan masuk ke dalamnya. Aku memilih duduk di barisan nomor dua dari depan. Beberapa menit kemudian, bangku-bangku yang tadinya masih kosong mulai terisi. Aku melihat di sekelilingku, berharap salah satu dari mereka akan menjadi teman baikku. Tak lama kemudian, cowok aneh itu masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di sampingku. Aku terkejut,“Kenapa kamu duduk disini?” tanyaku dengan sedikit kesal.

“Apa kamu tidak lihat? Semua bangku disini sudah penuh” jawabnya dengan santai.

Aku hanya diam saja dan mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tak lama kemudian, seorang guru masuk ke dalam kelas. “Selamat pagi anak-anak. Bagaimana rasanya terpilih menjadi murid di SMK Negeri 10. Jangan kalian sia-siakan kesempatan kali ini, karena kalian sudah mengalahkan ribuan murid yang ada di Surabaya?”

“Bangga…” “Senang pak”

“Syukurlah kalau begitu. Perkenalkan nama saya Budi Sutrisno. Saya adalah wali kelas kalian”

            Hari-hari berikutnya, aku memberanikan diri berkenalan dengan mereka kecuali dengan cowok aneh itu karena sebelumnya sudah berkenalan. Ternyata mereka teman yang seru. Mulai dari yang pendiam, pintar, baik, cuek, cerewet, jail, bahkan menyebalkan seperti Achmad. Sampai hari ini, aku masih duduk sebangku dengan Achmad. Saat istirahat, Dina mengajakku ke kantin. Dina adalah teman yang duduk di belakangku. Sesampai di kantin, Dina menyuruhku mencari tempat kosong, sedangkan Dina memesan makanan untuk kami. Beberapa menit kemudian, Dina datang sambil membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk. “Kenapa kamu di kelas diam saja?”
“Aku tidak suka duduk sebangku dengan Achmad, karena aku tidak biasa duduk sebangku dengan cowok”

“Bagaimana kalau kita pindah tempat duduk. Aku duduk denganmu, sedangkan Achmad duduk dengan Ifan”
“Apa Ifan dan Achmad mau?”
“Biar nanti aku saja yang bilang ke mereka”. Lalu kami segera menghabiskan makanan kami dan kembali ke kelas. Saat tiba di kelas, Dina langsung menghampiri Achmad “Hai Mad”
“Iya, ada apa Din?”
“Kamu mau nggak tukar tempat duduk denganku. Aku duduk dengan Zahra, sedangkan kamu duduk dengan Ifan”
“Haa kok gitu?”
“Ayolah Mad. Pliiisss”
“Hmm.. yaudah deh”
“Makasih ya Mad”. Dina melihat ke sekeliling kelas dan kebetulan Ifan duduk di bangkunya. Dina menghampirinya. “Fan, aku duduk sama Zahra ya, kamu duduk sama Achmad?”
“Oh ya, terserah kamu saja Din”. Lalu Dina memindahkan tasnya dan duduk di sampingku.
“Huu.. akhirmya kita bisa duduk sebangku”. Dina menoleh ke arahku sambil tersenyum lega.
“Ya Alhamdulillah deh aku udah nggak sebangku lagi dengan cowok aneh itu”

            Semakin hari aku semakin dekat dengan Dina. Kami melakukan banyak hal bersama, ke kantin bareng, belajar bareng, pulang bareng, dan bercerita tentang apa yang telah kami alami. Lain dengan Dina, aku merasa ada yang aneh dengan Achmad. Setiap hari, Achmad selalu mengajakku ngobrol bahkan bertanya hal yang tidak penting, seperti menanyakan sudah makan atau belum, aku hanya menjawab singkat. Saat aku sedang belajar, ada yang mengirim pesan ke nomor hpku. Aku membaca pesan itu dan tidak tahu siapa pengirimnya. Beberapa menit setelah membalasnya, ada pesan masuk lagi. Ternyata pengirim pesan itu adalah Achmad. Lalu aku tak membalasnya lagi. Hampir setiap malam Achmad selalu mengirim pesan kepadaku. Di sekolah pun Achmad selalu mendekatiku. Lama-kelamaan, muncul perasaan aneh di hatiku. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Saat Achmad didekatku aku merasa gugup.

            Empat bulan kemudian, Achmad menyatakan perasaannya kepadaku. Aku menerimanya dan kami berpacaran. Saat aku berpacaran dengan Achmad, sikap Dina menjadi sedikit aneh. Selama beberapa bulan, hubunganku dengan Achmad baik-baik saja. Saat kenaikan kelas, Ayah dan Ibu memarahiku karena nilai raportku turun drastis. Dua bulan setelah kenaikan kelas, aku merasa ada yang aneh dengan Achmad. Dia menjadi sedikit lebih cuek denganku, jarang ketemuan, jarang kirim pesan. Namun aku tidak mempedulikan hal itu dan meyakinkan diri mungkin saja Achmad sedang ada masalah.

             Saat aku menghadiri acara reuni SD di rumah makan padang, secara tidak sengaja aku melihat Achmad dan Dina sedang makan berdua di meja dekat jendela. Mereka terlihat begitu mesra. Aku berusaha tidak berfikir negatif tentang mereka, mungkin saja aku salah lihat.

            Keesokan harinya, aku langsung bertanya kepada Dina. Dina tidak menjawab pertanyaanku, malah mengalihkan pembicaraan. Aku berfikir mungkin yang kemarin kulihat bukan mereka berdua. Aku bercerita kepada Dina tentang sikap Achmad yang berubah. Namun, Dina bingung dan gugup saat aku bercerita. Aku sedikit curiga dengan sikap Dina. Saat dirumah aku memikirkan perubahan sikap yang terjadi pada Dina dan Achmad. Tapi aku tetap berusaha tidak berfikiran negatif tentang mereka berdua.

            Saat aku pergi mengantar ibuku belanja di pasar, aku melihat Achmad dan Dina berboncengan motor dari arah berlawanan. Sepertinya mereka berdua tidak melihatku. Aku menahan diri untuk tidak emosi melihat mereka berdua. Sampai dirumah aku masih terus memikirkan kejadian itu. Apa Achmad selingkuh dengan Dina? Tapi mana mungkin sih mereka berdua selingkuh. Apalagi Dina kan teman baikku. Tidak mungkin Dina mengkhianatiku. Mungkin aku harus bertanya lagi dengan mereka berdua batinku. Aku mengambil hpku dan menelepon Achmad. Tuutt tuttt tuutt.. tidak ada jawaban. Aku mencoba menelepon lagi. Tetap tidak ada jawaban. Aku membanting ponsel diatas kasurku. Lalu aku mengirim pesan ke nomor Dina. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Tidak ada balasan juga. Kenapa mereka berdua susah dihubungi sih? batinku. Aku masih menunggu balasan dari Achmad dan Dina sampai akhirnya aku tertidur. Aku bangun dan melihat jam diatas meja. Waktu menunjukkan pukul 5.00 segera kutarik selimutku. Beberapa detik kemudian aku sadar dan langsung lari menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian aku selesai mandi dan berwudhu. Kutunaikan shalat shubuh dengan segera. Setelah selesai shalat, aku berganti pakaian seragam. Dengan cepat aku menuju ruang makan dan mengambil roti yang sudah diolesi selai coklat. “Ayah, Ibu aku berangkat dulu ya” kataku sambil mencium tangan Ayah dan Ibu. Aku menyalakan motor dan langsung melesat menuju sekolah. Semoga saja hari ini aku tidak telat. Aku sampai di sekolah tepat saat Pak Satpam akan menutup gerbang. Setelah memarkir motor, aku berlari kecil menuju kelas. Huft.. untung saja Bu Silvi belum datang kataku dalam hati. Aku melihat Dina disampingku sibuk dengan hpnya. Sedangkan Achmad tidak ada dikelas. Kemana dia? Apa dia bolos sekolah? Dia juga belum membalas teleponku kemarin. Kok sikapnya makin lama makin cuek ya? Memang aku salah apa sama dia?. Aku bingung memikirkan Achmad. “Selamat pagi anak-anak. Siapkan buku kalian, hari ini kita belajar tentang logaritma”. Suara Bu Silvi membuyarkan lamunanku. Aku mengeluarkan buku matematika dan mendengarkan penjelasan Bu Silvi.

            Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Aku menoleh ke arah Dina, “Din. Kamu hari ada acara nggak? Nanti sore temani aku ke toko buku ya? Aku mau beli novel”. Dina yang masih sibuk memasukkan buku kedalam tasnya tidak langsung menjawab. “Maaf Ra aku nggak bisa. Sore nanti aku ada janji sama mamaku”

“Oh gitu ya. Jadi kamu nggak bisa nih?” tanyaku masih berharap.
“Maaf ya Ra aku nggak bisa. Yaudah Ra aku duluan ya”.
“Hati-hati Din”
“Iya kamu hati-hati juga Ra”. Aku hanya menghela nafas. Lalu kuambil hp dan menelepon Achmad. “Ya halo Ra? Ada apa?” akhirnya Achmad menjawab teleponku.
“Kamu kemana aja sih dari kemarin nggak bisa dihubungi? Kamu menghindar sama aku ya?” kataku tanpa basi-basi.
“Eh itu.. maaf Ra.. kemarin hpku baterainya habis dan aku lupa mengisinya”
“Kenapa kamu hari ini nggak masuk sekolah? Kamu bolos ya?”
“Iya Ra maaf aku terpaksa bolos sekolah. Temanku Reno memaksaku tadi”
“Sejak kapan sih kamu jadi suka bolos kayak gini?”
“Maaf Ra. Reno memanggilku, aku harus kesana. Udah dulu ya Ra”. Aku langsung mematikan teleponku. Lalu aku pulang dan langsung menuju ke toko buku. Setelah membayar novel yang aku beli, aku tidak langsung pulang. Aku pergi membeli makanan di warung pinggir jalan. Saat aku membayar makanan, aku melihat Achmad dan Dina berboncengan melintasi jalan di depan warung ini. Mereka tidak melihatku karena tertutup oleh beberapa orang di depanku. Dengan cepat aku mengikuti mereka berdua. Aku berhenti dibawah pohon pinggir jalan dan melihat ke arah Achmad dan Dina yang berhenti di taman kota. Mereka berdua berjalan bergandengan. Aku sudah tidak kuat melihat mereka berdua. Aku menghampiri mereka berdua yang duduk di salah satu kursi taman.”Achmad! Dina!” Achmad dan Dina terkejut melihatku yang sudah berdiri didepan mereka.

“Zahra? Kamu ngapain disini? Kamu nggak pulang?” kata Achmad dengan gugup. Sedangkan kulihat Dina menunduk diam saja.

“Harusnya aku yang tanya kamu? Ngapain kamu berduaan sama Dina? Kamu tadi bilang kalau kamu lagi sama temanmu Reno tapi ternyata kamu sama Dina! Kamu bohong sama aku! Kamu selingkuh sama Dina” kataku sambil menahan air mata.

“Bukan begitu Ra. Kamu salah paham. Aku bisa jelasin semuanya.” Kata Achmad gugup.
“Udahlah aku nggak mau dengerin kamu lagi Mad dan kamu Din aku nggak nyangka kamu bakal nusuk aku kayak gini. Kukira kamu teman yang baik. Tapi ternyata kamu teman yang busuk!”
“Aku nggak bermaksud buat nusuk kamu kayak gini Ra. Dengerin aku dulu” Dina masih gugup.
“Nggak ada yang perlu dijelasin lagi. Semua udah jelas. Achmad kita putus!” aku berlari meninggalkan mereka sambil mengusap air mataku yang mulai menetes.
“Ra.. Zahra dengerin aku dulu” teriakan Achmad tidak kuhiraukan.

            Aku langsung pulang kerumah. Sampai dirumah aku berlari ke kamar dan mengunci pintu. Aku menangis diam agar orangtuaku tidak mendengarnya. Kuhapus semua pesan dan riwayat telepon dari Achmad. Kubuang semua fotoku dengan Achmad. Pagi harinya aku terbangun dalam keadaan pusing. Aku melihat kearah cermin. Mataku bengkak karena menangis semalaman. Rambutku acak-acakan. Bahkan aku masih memakai baju seragam sekolah kemarin. Beruntung hari ini libur sekolah jadi aku bisa menenangkan diri. Kulihat hpku penuh dengan pesan dari Dina dan Achmad. Aku hanya melihat tanpa berniat membalasnya.

            Senin pagi aku mengawali hariku dengan senyum yang terpaksa. Sebenarnya aku malas pergi ke sekolah apalagi jika harus bertemu dengan Achmad dan Dina. Dengan berat hati aku melangkah masuk kedalam kelas. Kulihat Dina sudah duduk dibangkunya. Aku berniat untuk bertukar tempat duduk namun Dina menghampiriku duluan. “Ra. Kamu masih marah sama aku?” aku hanya diam dan duduk dibangku.

“Zahra.. aku minta maaf” aku masih diam saja tidak menghiraukan omongannya. Sedangkan Achmad, aku tidak melihat dia hari ini. Mungkin dia bolos sekolah lagi. Sampai jam istirahat pun aku masih diam saja dan tidak mendengarkan permintaan maaf yang entah sudah berapa kali keluar dari mulut Dina. “Zahra, tunggu aku. Aku akan jelasin semuanya sekarang” Dina menarik tanganku dan membawaku ke kolam apung. Sampai di kolam apung aku masih diam. “Ra. Dengerin aku. Aku bakal jelasin semuanya. Maafin aku Ra. Aku salah. Aku.. aku.. menyukai Achmad. Saat pertama kali aku bertemu dengannya dikelas dulu. Aku tidak tahu kenapa aku bisa suka sama Achmad. Lama-kelamaan perasaanku ini semakin besar dan itu terjadi bersamaan dengan kamu pacaran dengan Achmad. Aku sakit hati dan sikapku jadi sedikit lebih cuek ke kamu. Aku bingung harus bagaimana lagi Ra. Akhirnya aku menyatakan perasaanku ke Achmad dan ternyata Achmad juga menyatakan perasaannya kepadaku. Lalu kami pacaran tanpa sepengetahuan kamu Ra. Maafin aku Ra”

“Kamu suka sama Achmad? Tapi kenapa kamu nggak cerita ke aku Din?” aku terkejut mendengar penjelasan Dina.

“Maafin aku Ra. Saat aku ingin cerita ternyata kamu sudah terlebih dulu cerita kepadaku tentang Achmad. Waktu itu aku sangat bingung Ra. Maafin keegoisanku. Aku menyesal telah menyakitimu Ra” kata Dina sambil meneteskan air mata.

“Maafin aku juga Din. Aku nggak tau kalau kamu suka sama Achmad. Kalau kamu cerita dari dulu, aku pasti nggak akan pacaran sama Achmad” aku berkata sambil menahan air mata.
“Nggak Ra. Aku yang salah. Aku udah mengkhianati kamu. Aku udah merusak pertemanan kita. Tapi jujur Ra aku pengen kita kayak dulu lagi. Aku kangen kita pulang bareng, makan bareng, belajar bareng, aku pengen kita temenan lagi kayak dulu “
“Aku udah maafin kamu Din sebelum kamu minta maaf sama aku. Aku juga kangen kita yang dulu yang ngelakuin banyak hal bareng-bareng. Aku juga pengen kita temenan lagi kayak dulu”
“Jadi kita temenan lagi ya Ra?” katanya sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
“Kita temenan lagi” aku mengacungkan jari kelingkingku dan menautkannya dengan jari kelingking Dina. Lalu Dina memelukku lama. Seakan-akan kami terpisah lama dan baru saja dipertemukan. “Terima kasih Ra. Kamu teman terbaikku. Aku janji nggak akan ngerusak pertemanan kita lagi” katanya sambil melepas pelukan.

“Iya sama-sama Din. Kamu juga teman terbaikku kok. Yuk kita ke kelas. Bentar lagi bel masuk bunyi”. Aku dan Dina berjalan pelan menuju kelas. Sambil berjalan Dina bercerita bahwa dia dan Achmad sudah putus sejak kejadian waktu itu di taman kota. Ternyata Achmad itu cowok playboy. Dina juga bercerita bahwa Achmad mempunyai pacar lain selain aku dan Dina. Aku terkejut. Aku bersyukur Tuhan menunjukkan kepadaku juga Dina kelakuan Achmad yang sebenarnya. Keesokan harinya saat aku melangkah masuk kedalam kelas, kulihat Achmad sudah duduk manis dikursinya. Aku melengos berjalan menuju kursiku. “Zahra..” Achmad memanggilku. Aku hanya diam saja.
“Zahra.. aku minta maaf”

“Ya” aku menjawab dengan sangat singkat, padat dan jelas. Tak lama kemudian Dina datang.

            Hari-hari aku lalui seperti sedia kala. Melakukan banyak hal bersama Dina. Aku bersyukur karena pertemanan kami tidak jadi rusak. Achmad pun sepertinya belum berubah sifatnya dan aku tidak peduli. Saat ini sedang berlangsung pelajaran Bahasa Indonesia. “Baiklah anak-anak. Saya ada penawaran untuk kalian. Siapa yang ingin ikut Lomba Debat Bahasa Indonesia Tingkat Provinsi?” kata Bu Risa, salah satu Guru Bahasa Indonesia di SMK Negeri 10.

“Eh Ra.. ikut lomba itu yuk? Aku pengen banget Ra.. kali aja kita menang kan?”
“Hm.. ikut lomba ini ya?? Boleh deh” aku dan Dina mengangkat tangan.
“Apa kalian ingin mengikuti lomba ini?”
“Ya BU. Kami ingin mengikuti lomba ini” kataku dengan tegas.
“Baiklah. Jam istirahat pertama nanti kalian temui saya diruang guru.”
“Baik bu” Dina menjawab.
“Baiklah anak-anak. Tugas kalian kerjakan soal di buku paket halaman 36. Kumpulkan besok Rabu. Selamat pagi” kata Bu Risa lalu pergi meninggalkan kelas.

            Hari-hari selanjutnya, aku dan Dina sibuk mempelajari materi yang akan diperdebatkan nanti saat lomba. Tidak hanya aku dan Dina saja, Ayu dan Farah juga mempelajari materi debat. Kami satu tim mewakili SMK Negeri 10 maju dalam Lomba Debat Bahasa Indonesia Tingkat Provinsi. Tanggal 20 Desember 2014 adalah hari dimana Lomba Debat Bahasa Indonesia dilaksanakan. Aku dan teman satu timku berusaha semaksimal mungkin mengeluarkan argument-argumen yang kuat. Saat pengumuman pemenang, aku dan timku berdoa supaya kami bisa menang dan mewakili Jawa Timur maju ke tingkat nasional. Akhirnya usaha kami membuahkan hasil. Kami mendapat juara satu dan menjadi wakil Provinsi Jawa Timur di tingkat nasional.



            Kami berempat semakin sibuk menyiapkan lomba. Disela-sela kegiatan magang kami menyempatkan diri ke sekolah untuk mempelajari materi lomba. Awal Februari, Lomba Debat Bahasa Indonesia Tingkat Nasional dilaksanakan. Aku dan Dina diijinkan tidak masuk magang. Begitu juga dengan Ayu dan Farah yang diijinkan tidak masuk sekolah. kami sangat gugup saat lomba sedang berlangsung. Karena ini pertama kalinya kami berhadapan dengan banyak orang yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Kami berusaha tidak gugup dan terus mengeluarkan argument-argumen yang kuat dan baik. Selama empat hari kami berada di Kota Makassar tempat dilaksanakannya lomba tersebut. Saat pengumuman, kami semakin giat memanjatkan doa kepada Tuhan agar kami menang. Ternyata Tuhan belum sepenuhnya mengabulkan doa kami. Kami berada diurutan keempat dari 34 peserta lomba. Meskipun tidak mendapat juara satu atau masuk dalam tiga besar, kami tetap bersyukur karena tidak mudah bersaing dengan peserta-peserta lain yang tidak kalah cerdas. Setelah kembali ke Surabaya, aku tidak langsung kembali masuk magang melainkan istirahat selama dua hari dirumah. Begitu juga dengan Dina, Ayu dan Farah. Hari senin aku dan Dina mulai masuk magang. Ayu dan Farah kembali masuk sekolah. Sekarang aku dan Dina semakin rajin belajar dan ingin mendapat prestasi-prestasi lainnya di sekolah. Kami juga memutuskan untuk sementara menjauhi satu hal yang menurut kami dapat menghambat prestasi yaitu pacaran.

            Saat aku dan Dina naik kelas XII, kami juga semakin rajin belajar untuk mempersiapkan ujian-ujian yang akan kami hadapi nanti. Saat pengumuman kelulusan, aku tidak menyangka jika aku mendapat peringkat kedua disekolah sedangkan Dina mendapat peringkat ketiga. Aku dan Dina sangat senang dengan apa yang telah kami raih. Begitu juga orang tua dan guru kami yang tidak henti-hentinya membanggakan Aku dan Dina. Kini kami melanjutkan pendidikan kami ke jenjang perkuliahan. Aku mengambil jurusan desain sedangkan Dina mengambil jurusan perfilman. Kami kuliah di kampus yang sama.

TAMAT