Materi Duniawi

Kemarin ku lihat bintang, ia masih bercahaya. Dua hari yang lalu ku lihat langit, namun tak satupun bintang ada diatas langit. Ketika kamu tiada bintang itu hadir menghiasi langit-langit. Mungkinkah kau bintangku yang kini telah pergi?



Ku berdoa pada sang pencipta, tatkala memang dirimu ditakdirkan untukku maka kembalilah. Datanglah hujan dan bukan hanya menjadi petir belaka. Berikan kesejukan dan kedamaian dalam hatiku agar aku dapat merasa nyaman dan tentram selama tanpamu.

Bila hujan datang nantinya aku mungkin hanya bisa diam memandang kaki kaki tak bertanggung jawab menginjak setiap genangan air. Air yang tak tahu menahu akan apa yang ia telah lakukan menjadi merasa bersalah karena sikap dan sifat yang begitu mengagungkan harta duniawi.

Aku malu dan juga sedih. Kepada siapa lagi aku harus berkeluh kesah bilamana telah kuketahui betapa buruk setiap hal yang telah dilakukan oleh orang yang ada disekitarku? Pengalaman kali ini adalah pengalaman yang luar biasa mengejutkan bagi ku dalam hidupku yang kurang dari kepala dua ini.

Air mataku kembali menetes. Aku tidak dapat berhenti menangis, aku hanya bisa membuat bendungan air mata yang mana kemudian membuat banjir apa yang ada disekitarku. Membasahi apa yang dekat dengan diriku.

Ku bersyukur, ditengah setiap helaan nafasku aku masih memiliki teman kecil yang selalu bersamaku. Menemaniku dikala aku ketakutan dan menjadi sandaran hidupku tatkala aku berkeluh kesah.

Banyak hal yang ingin aku keluh kan pada seseorang. Namun aku tahu tak mungkin aku melakukanya padanya. Siapa dirinya dan siapa diriku? Aku tak ingin mengubah pandangannya padaku bilamana aku sering mengeluhkan sesuatu terutama pada hal sensitif seperti harta duniawi. Aku takut. Aku bukan orang yang begitu memuja setiap benda duniawi.

Dulu aku sering mengabaikan orang. Kini ketika ku membutuhkan sebuah bantuan, tak tahu lagi aku harus mengeluh pada siapa. Haruskah aku terus meminta pada Tuhan Yang Maha Esa? Akankah Tuhan akan mendengarkan setiap keluhanku?

Dalam diam ku bersenandung. Tak lagi aku tahu mana yang baik dan mana yang tak baik. Ah rupanya aku mulai tak lagi karuan dalam mengetik. Biarlah jari-hari ini berjalan tanpa bisa aku hentikan. Namun dada ini semakin sesak. Ohh beginikah jalan yang Tuhan inginkan? Ingin ku menjerit meminta pertolongan, namun pada siapa?