What The Ending?

Suhu yang ada kini tak mempengaruhi kondisi sekitar. Malam ini sama seperti malam - malam yang sebelumnya namun malam ini tak terlalu terasa bagaimana dingin nya suhu yang seharus nya ada. Masih juga di temani dengan seseorang yang memiliki kelembutan mendalam hingga aku memanggil dia dengan soft. Entah mengapa aku seperti melihat dia saat aku sedang mengedit foto dengan menggunakan aplikasi soft tersebut. Maka dari itu aku memanggil nya soft. Ia yang selalu hadir menemani hari ku mulai pagi hingga malam melalui sebuah pesan singkat (SMS) . 

Semakin hari semakin sadar karena hari-hari ini aku banyak merenungkan tentang diri ku sendiri. Terkadang niat serta tekat telah aku buat untuk melangkah kembali. Tapi aku tahu aku telah menyukai tempat ini meski tak aku ingini dahulunya. Aku sudah mulai jatuh cinta dan menaruh rasa pada semua yang ada di tempat ini. Mungkin benar semua hanya membutuh kan waktu yang tak akan berlangsung cukup lama hingga aku sepenuh nya kembali menemukan jalan ku. Meski terkadang kala aku mengingat semua yang telah terjadi pada masa lalu itu aku masih dapat meneteskan air mata, namun aku mulai belajar untuk melangkah dengan memandang kedepan dan memegang keyakinan pada prinsip yang telah aku buat.

Pagi ini sejak dimulainya jam berganti hingga sekarang ini aku sedang duduk untuk menuangkan segala yang ada pada otak ku, aku memikirkan dia si angin yang entah kini pergi kemana. Apa kah aku merindukan angin yang telah pergi? Atau aku menginginkan dia untuk kembali? Aku tidak bisa menemukan jawabannya. Yang aku tahu mungkin aku merindukannya sama hal nya aku merindukan beruangku untuk kembali pada aku meski aku tahu dia tidak akan pernah kembali untuk aku.

Tak ku sangka juga bahwa hari ini aku akan bertemu dengannya. Aku yang semula sudah menghidar dari dirinya hingga pada batas titik kemampuan ku lalu akhirnya aku bertemu juga dengan dia si angin ku yang aku kira telah pergi dari hidup ku sepenuhnya. Aku tahu aku tidak akan mungkin dapat bersama dengannya terlalu lama karena aku hanyalah sebuah air yang akan terus mengalir. Aku tahu dia juga sama dengan ku , Akan terus berusaha untuk mencari kesenangan serta hiburan untuk dirinya sendiri. Tanpa hadir ku atau pun sama sebaliknya. 

Banyak suara yang hadir , berdengun memasuki lubang telinga , tidak hanya satu telinga namun keduanya. Merambat terus hingga sampai dan di terima oleh otak ku yang kemudia bekerja mengartikan apa yang harus tersampaikan. Selama jari - jari tangan yang tak indah dan juga tangan yang tak sehalus kain yang baru saja keluar dari toko masih terus mengetik. , otak terus berjalan untuk mencari serta merangkai setiap kata yang akan tersusun rapi untuk membentuk suatu pola kalimat yang akan membuat orang lain terhidur saat membacanya.
 
Beberapa hari ini dengan di temani oleh hujan yang datang begitu saja , aku seperti terkurung dalam ruangan yang semakin lama semakin sempit karena suatu penyakit yang terus datang untuk mengganggu setiap ketenangan yang ada. Penyakit yang sesungguhnya tak kuingin kan datang namun terus berkembang hingga rasanya aku perlukan istirahat yang cukup untuk beberapa hari ini. Capek, lelah , letih yang aku rasakan rasanya tak sebanding dengan rasa yang ada dalam hati.

Semua selalu dikatakan wajar karena kita memiliki hati dan perasaan. Tapi apakah mungkin semua nya terus berjalan begitu saja dengan mengatas namakan suatu kewajaran yang sebenarnya tidak ada?

" Everybody can go back and star a new baginning. But anybody can start today and make a new ending. " That sad or happy ending :).