Mudahnya Menyulut Api





Mudahnya Menyulut Api

mudahnya menyulut api
sumber: Google

NB : Tulisan ini hanya sebuah tulisan biasa, jangan dibaca sambil berpikir keras sampai senewen. Nggak baik untuk kesehatan. Mohon maaf apabila ada salah kata dan perbuatan. Mudah-mudahan tiada hati yang terluka. Biar satu hati saja yang terluka dan nantinya akan sembuh seiring berjalannya waktu.


Berbagai kejadian datang secara bersamaan. Entah apa yang mereka pikirkan(si pembuat kejadian). Mudahnya mereka menyalakan api. Apakah mereka dahulunya anak pramuka? Atau mungkin mereka sering naik gunung? Sehingga menyalakan api begitu mudah.

Bukan api bentuk kiasan yang aku maksudkan. Percikan api yang mereka hasilkan itu begitu besar sehingga hati yang tak terlihat itupun bisa menjadi sakit. Mata yang tak memandang bisa meneteskan air mata, dan hubungan yang dahulunya terjalin dengan baik-baik saja, bisa berubah menjadi benci dan amarah. Api yang dahsyat itu hinggap kecil-kecil hingga pada setiap hati-hati yang tak terlihat.

Mereka bersembunyi, mereka menyamarkan, dan mereka berseru dalam satu nama. Namun yang lain juga akan berseru dan bahkan mengecam bahwa '' mereka bukanlah kami ". Kalau mereka bukan kami, lalu mereka siapa? Mereka juga manusia. Meski dalam opiniku, mereka adalah manusia pembawa api, mereka tiada bukan karena alam yang berkehendak, tapi mereka tiada atas kemauan mereka sendiri.

Banyak yang berkata, mereka yang tertutup dan terbuka tak bisa disamaratakan. Tapi manakah diantara berikut yang lebih diterima masyrakat? Jelas mereka yang tertutup. Nggak sedikit mereka yang tertutup akhirnya membuka diri menjadi pribadi yang lain. Buatku, secara opini... jelas mending yang terbuka karena mereka tidak melukai orang lain. Tapi kata seorang anak yang polos. Jelas tidak ada yang mending karena semua orang salah.

Disini kita melihat opini bertebaran. Banyak orang yang tidak sepaham akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan dengan mereka yang sepaham saja. Aku pun kalau bisa memilih hal yang sama. Namun ketika aku hendak marah, aku hendak melontarkan kata-kata, aku hanya bisa berpikir kembali sambil merenungkan apa yang terjadi.

Jelas, aku nggak bisa marah pada mereka yang diakui sama oleh pembawa api namun mereka adalah orang-orang disekitarku. Orang-orang yang tidak tahu apa-apa, orang-orang yang peduli dengan sesama meski aku tahu ia tentu akan berpegang pada pemahamannya sendiri. Tapi berkat adanya kejadian sang pembawa api, aku pun sadar bahwa ada sebagian dunia yang gak bisa menerima.

Karena sebagian dunia itu akhirnya aku putuskan untuk pergi. Aku putuskan buat membatasi diri. Semakin aku terjun ke dalam maka hatiku akan semakin sakit. ketika hatiku sakit, maka aku akan menumbuhkan benih-benih kebencian. Tapi kadang aku mikir, sampai kapan aku harus begini? Jelas pembawa api akan senang kalau kami tak lagi bersatu. Kalau satu persatu orang akan memutuskan seperti yang aku pikirkan. Lalu kemudian akan terjadi perang dimana-mana, bukan lagi pembawa api yang membuat api, tapi masing-masing individu yang tersulut oleh api akan membakar setiap hati yang membuat mereka tersakiti. Apa jadinya negeri ini nantinya?

Belum selesai kasus seorang tokoh yang membuat hatiku sakit bahkan untuk pertama kalinya aku meneteskan air mata saat melihat keputusan hasil yang ditentukan oleh para petinggi. Belum lagi suara koar-koar masyarakat yang menginginkan hukuman yang lebih lama. SAKIT! Mereka yang katanya sakit hatinya karena terluka oleh kata-kata seorang tokoh langsung meminta hukuman yang begitu berat. Seandainya aku juga seorang petinggi, maka aku pun akan menghukum semua orang yang menghujatku dalam namaNya. Mereka yang mengucilkanku sejak kecil. Mereka yang membuat lambang terbalik sembari ditambah dengan kata-kata kotor. BAGAIMANA KALAU MEREKA DIHUKUM JUGA AGAR KITA SAMA SAMA BISA SALING MENGHARGAI?

HAHAHAHHAHAHAHAHA!

Jelas sudah pasti jawabannya mereka tidak akan menerima. Disini kadang aku mikir, mereka tidak mau disamakan dengan sang pembawa api, tapi mereka berpikir hal yang sama tentang pembawa api meski dalam konteks yang berbeda.

Hmm... tapi balik lagi... benar mungkin kalau ada yang bilang kita tak bisa menyamaratakan setiap individu. Mereka yang tetutup belum tentu sang pembawa api, mereka yang terbuka belum tentu akan melukai orang lain, dan mereka yang berjas - jas belum tentu akan memakan uang rakyat. Ya. Semua nggak bisa dicurigai. Ada yang bilang juga maling lebih pintar daripada polisi. Jelas, kalau malingnya ga pintar penjara penuh donk hehehe. maaf ini hanya candaan.

Terlepas dari apapun. Rasanya tulisan ini adalah tulisan yang selama ini aku pendam. Aku selalu takut untuk menulis di dunia maya. Sebagian isi hatiku akhirnya terungkap. Sejatinya aku nggak pandai untuk menutupi sesuatu, tapi kejadian demi kejadian yang ada membuatku semakin sadar dan hatiku semakin terluka. Dari pada orang akan berasumsi lain mending kubuat tulisan yang mewakili isi hatiku yang sebenarnya.

Namun, dibalik itu semua. Aku tetap mengasihi mereka. Sampai kutulis pada setiap kertas didinding dan ku foto sebagai wallpaper hp. AKU MENGASIHI DAN MENGAMPUNI MEREKA. Kata-kata itu aku ulang dalam pikiranku. Dan setiap pagipun kuusahakan membaca kitab suci. Hanya harapan dan doa yang bisa aku sampaikan pada Tuhan, mudah-mudahan hati sang pembawa api akan segera tersadarkan bahwa apa yang mereka lakukan itu tidaklah benar. Bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan yang salah. 

Semoga juga setiap hati yang terluka akan dapat mengampuni dan menjalani hidup ini dengan ikhlas. Akhir kata, apabila setiap kali aku mengomel tentang kondisi saat ini, seseorang akan mengatakan .. " pindaha aja kalau nggak bisa menerima ". Bagiku,, mungkin dia ada benarnya. 

Kita ada disini karena perbedaan, harusnya aku juga bisa merima setiap perbedaan itu dan berjuang bersama? Bukankah aku sangat menyukai pelajaran sejarah? Seharusnya pun aku tak melupakan sejarah. Mudah-mudahan mereka sang pembawa api juga berpikiran sama dengan ku.





Salam, 

Mey SUB