Beda Agama Bukan Alasan Untuk Berpisah

Perbedaan Bukan Pemisah - Seringkali saya mendapatkan cerita baik dari teman maupun dari pengalaman orang-orang terdekat dan orang yang baru saya temeui baik di dunia nyata maupun maya dan fiksi bahwa karena adanya perbedaan agama, mereka di pisahkan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam kisah percintaan meski yang kerap atau sering kali terjadi adalah pada kisah percintaan. Namun ketika kita bersahabat atau berteman dengan orang lain yang berbeda dengan kita, pasti kita akan menemui satu dua orang yang mempermasalahkannya.



Saya pribadi tidak mempermasalahkan setiap perbedaan agama yang ada. Bukan berarti juga saya ini adalah seorang atheis atau telah salah jalan. Namun kita hidup di negara berkembang, negara yang menganut idiologi Pancasila, negara yang memiliki paham bhineka tunggal ika. Nah, bukan kah seharusnya kita tidak mempermasalahkan setiap perbedaan yang ada termasuk agama?

Pernah saya membaca sebuah novel yang menceritakan sebuah kisah cinta seseorang yang berbeda agama, akhirnya mereka di pisahkan oleh agama dan orangtua mereka. Sungguh mengharukan. Kemudian di lain waktu pernah juga saya menyaksikan sebuah film, dimana ketika saya mengetahui bahwa ada juga orangtua yang memisahkan anak mereka karena berteman dengan orang yang berbeda agama dengan mereka. Dan di kehidupan nyata, saya menyaksikan sendiri seorang ibu yang begitu susah mendapatkan pekerjaan sehingga ketika satu waktu ada suatu pekerjaan namun karena terlahalang oleh agama, akhirnya ia pun tidak mengakui agama yang sebenarnya yang ia anut. Huft.. Ingin sekali saya menegur, namun sebelum menegur.. Ibu itu sendiri berkata bahwa bagaimana lagi bila ini sudah jalannya (?) Saya jadi bertanya-tanya, jalan mana yang sebenarnya ibu itu maksudkan?

Mengutip pada sebuah ayat, pernah saya dengar bahwa Tuhan memberikan kesusahan pada hari ini ya maka hanya untuk hari ini saya, dan besok akan ada hal lain. Sampai sekarang karena menurut saya hal itu benar, maka saya memasukkan pemahaman itu pada hidup saya. Benar atau tidak, saya masih mempercayai bahwa Tuhan itu ada dan maha adil.

Sewaktu saya sekolah, guru agama teman saya sering memberikan pertanyaan pada saya. Bagi saya guru agama dia adalah guru agama saya juga meski kita berbeda keyakinan, namun karena mereka menganggap saya berbeda, maka saya maklum dan menyebut ia sebagai guru agama teman- teman saya. Hmm, ia selalu mempertanyakan bagaimana pandangan saya maupun pandangan agama saya mengenai agamanya. Jujur, saya dan segenap orang-orang sesama saya pun menghargai bagaimana ia ( guru dan teman - teman saya yang berbeda agama ) beribadan dan menjalankan setiap tugas agama mereka. Meski dalam praktek beberapa hal menyeleweng, namun saya anggap masih manusiawi. Akan tetapi, masihkah segala sesuatu tersebut perlu untuk di pertanyakan? Terkadang saya bingung, namun saya memaklumi.. Bahwa semua itu akan baik pada nantinya.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana pendapat Anda, sebagai pembaca saya :)) Namun saya cukup senang, bila Anda dapat mengerti bahwa perbedaan itu bukan penghalang kita untuk berpisah. Namun karena adanya perbedaan kita jadi dapat mengontrol emosi kita, memperbaiki sifat kita, dan berbenah diri kita jadi sadar bahwa hidup ini tidak sendirian, kita hidup berdampingan, dengan orang yang ada di sekitar kita. Kita bukan makhluk individual.. Namun kita makhluk sosial :))

Jadikan perbedaan itu sebagai pelajaran dan suatu seni kehidupan yang indah. Jangan jadikan perbedaan itu sebagai penghalang kita untuk bersosialisasi.. Hargai apa yang ada di sekitar kita, berteman sebanyak mungkin, dan terus belajar akan kehidupan ini.. Percayalah, Tuhan itu satu meski kita memiliki banyak cara untuk menghadap padaNya :))