Kehilangan





17  Juni 2018

Hari ini aku merasa kehilangan. Kehilangan banyak hal. Emosi yang selama ini aku pendam rasanya ingin aku ledakan dengan segera tapi nggak bisa. Mau nggak mau akhirnya aku salurkan dengan membanting barang ke tembok. Sedikit terpuaskan, tapi masih belum puas. Akhirnya aku pun masuk ke kamar mandi dan kemudian mengguyur diriku dengan air. 

Hm. Kalau orang lain memiliki kawan, orang lain memiliki keluarga, orang lain memiliki tempat untuk bersadar atau mengeluh.. Aku nggak. Aku nggak memiliki semuanya. 

Hari ini aku kehilangan temanku. Teman yang sudah ada ketika aku melewati masa-masa sulit dimana aku harus memilih jalan hidup kemana. Teman yang nggak pernah aku temui dan teman yang sebenarnya menerima diriku dan juga selalu memberi nasehat. Sayangnya aku mulai nggak bisa menerima dia dan kemudian aku putuskan untuk meninggalkannya, lalu setelah terungkap semuanya, ia pun meninggalkanku. Ada satu rasa kehilangan yang nggak bisa aku jelaskan, aku pikir aku bakalan bisa melalui semua ini. Ternyata tidak juga.

Pagi hari aku kehilangan harapan, siang hari aku melepaskan perasaan, sore hari aku kehilangan seorang teman baik, dan malam hari aku kehilangan keluargaku. Aku berseru pada Tuhan kenapa Tuhan sejahat ini padaku? Pada siapa aku harus mengeluh? 

Di dalam kamar mandi ku guyur badanku hingga basah semua. Aku biarkan air mendinginkan diriku, dan ku harap hatiku pun bisa tersiram agar menjadi damai, agar menjadi adem, agar ya agar semua kembali menjadi baik baik saja. Rasanya sesak. Nggak tahan akhirnya aku teriak kencang sambil menangis di kamar mandi. Nggak perduli lagi apakah keluargaku mendengarkannya atau tidak. Rasanya beban ini terasa berat dan aku nggak kuat menghadapinya sendirian. Tuhan dimana?

Mungkin kehilangan teman sudah biasa bagiku. Temanku itu memiliki banyak teman bahkan ia memiliki pembaca yang setia membaca setiap tulisannya, ia memiliki adik adik tingkat yang baik dan taat beragama, aku sendiri semakin merasa jauh dan jauh. kalau aku bandingkan diriku dengannya, aku nggak memiliki siapa siapa. Keluarga saja rasanya tidak mengasihiku.

Saat di perantauan aku memiliki seseorang yang aku pikir ia tulus mengasihiku, tulus memelukku, tapi nyatanya engga. Dia selalu update status untuk membuktikan eksistensi dan kebaikannya. Ya mungkin ini pikiran negatifku, tapi semakin lama aku semakin nggak nyaman. Kemudian aku memiliki teman dekat, namun lama kelamaan aku merasa ia hanya memanfaatkan ku karena aku menyediakan banyak fasilitas, selanjutnya aku memiliki teman lain yang kemudian aku tahu dia hanya memanfaatkan ku saja. Jadi aku pikir dia berteman karena ada sesuatu yang bisa aku berikan padanya. Sejak itu aku mulai menjaga jarak tapi tetap memperlihatkan pada dunia bahwa duniaku ini begitu berwarna dan indah. Seolah olah aku di keliling oleh orang yang mengasihi dan menyayangiku namun nyatanya tidak.

Sebenarnya aku sudah lama ingin marah pada Tuhan, marah pada ketidak adilanNya. kemana Tuhan? Benarkan Ia mengasihiku? kemana Ia saat aku butuhkan disaat saat seperti ini? Aku sudah berseru lama, ya lama sekali. Tapi nggak ada jawaban. Semakin kesini aku semakin merasa sendirian dalam dunia ini. Siapapun yang membenciku dan membaca tulisanku kali ini pasti akan merasa senang karena tahu bagaimana dunia dan kehidupan ku yang sebenarnya. Dunia memang nggak bersahabat untuk ku sejak kecil. Sampai aku nggak tahu kutukan dari mana yang terus mengikutiku.

Bahkan ketika aku memutusan untuk kembali mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara berkumpul pada komunitas yang menguatkan imanku eh malah Tuhan memberikan aku cobaan seperti ini. Aku capek. Aku lelah. Satu hal yang aku inginkan kalau memang Tuhan nggak menjawab juga doaku.. Lebih baik aku akhiri hidup ini.

Dari kecil aku sudah nggak memiliki teman. Teman? mana ada dalam kamus kehidupanku. Kalau nggak mereka yang pergi ya aku yang pergi. Sahabat? boro boro, itu semua cuma ilusi atau kiasan aja yang di sebut sebut agar dunia tahu bahwa aku memiliki orang orang yang mengasihiku. Saudara? Bahkan awalnya aku pikir adik adikku membenciku. Mereka selalu berkata sinis padaku seolah olah aku ini bukanlah manusia dirumah ini. Saudara sepupu? Aku cuma punya satu yang aku kenal dan kami pernah dekat. Namun karena pertikaian orang tua kami akhirnya kami menjadi menjauh, atau mungkin aku yang menjauh. Aku sudah capek kalau harus bersaing dengannya padahal aku nggak pernah ada niat. Buat apa kami bersaing? Kan Tuhan ciptakan setiap orang itu nggak sama. Kalau sama buat apa kita sosialisasi? Jadi aku yakin dengan pasti kalau dia baca tulisanku yang ini dia akan tertawa bahagia termasuk saudara papaku yang lainnya. Bah, orang dewasa itu lucu kayak anak kecil saja. Tak bisa kah mereka sedikit saja dewasa?

Aku sudah cukup untuk update sesuatu yang menunjukkan kesedihanku. Dunia hanya akan tertawa melihatnya atau saat membacanya. Dunia hanya ingin melihat diriku dengan kebahagianku saja. Dunia nggak ingin mengetahui kesedihanku, eh pingin deng, untuk membuat mereka tertawa.Aku juga merasa nggak memiliki teman jadi aku cukup untuk berdiam diri saja. Buat apa aku cape cape cerita pada mereka yang juga tak akan pernah bisa mempercayaiku?

hari ini aku kehilangan, tapi aku masih belum kehilangan akalku. Aku masih bisa menulis. Disaat aku berpikir dan berontak pada Tuhan, rasanya aku ingin bunuh diri saja. Tapi kemudian ada hal yang membuatku tersadar. Saat masih di kamar mandi, ketika aku sudah putus asa. Nggak tahu kenapa aku ingin sikat gigi. Saat ku cari sikat gigiku, aku terharu saat melihatnya. Sikat gigi itu berada di satu wadah bersama sikat gigi yang lainnya yang mana milik adik adiku. Sebenarnya hal ini sepele, tapi percaya nggak percaya letak sikat gigi itu membuatku kembali semangat dan juga menulis tulisan ini. 

Hal yang sepele tapi berharga banget. Dulu aku bertanya pada adikku kenapa sikat gigiku selalu berada di wadah luar? Bukan di dalam wadah bersama milik mereka? Ia bilang aku bukan bagian dari kamar ini, mereka bilang aku bukan bagian dari mereka. Kalau kini sikat gigiku berada di dalam,, kalian tahu kan artinya apa? Sebersit rasa haru menghampiriku dan kemudian menyadarkanku, aku belum kehilangan segalanya. Meski saat ini nggak ada yang memeluk dan juga membuatku kuat, aku percaya pada iman yang nggak pernah aku lihat tapi ia akan mengubahkan segalanya.

Aku tahu selama ini aku butuh asupan yang positif, orang orang di sekitarku yang positif agar aku terus menjadi positif. Sudah lama sekali aku mendengarkan yang negatif dan ini sudah cukup. Bagaimanapun juga ketika aku merasa kesal aku butuh untuk melampiaskan, tidak baik untuk memendam. Sakit. 

Sayangnya meski aku sudah sadar akan hal ini. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi denganku besok, besok, ya besok. Andaikan Tuhan memang ada, aku hanya ingin ia mengembalikan hal hal yang telah hilang. hanya itu.yah hanya itu.

Siapapun yang membaca ini janganlah mengasihaniku, jangan juga berkomentar, buat yang membenciku, aku yakin kalian pasti sedang menertawakanku. Terima kasih. Mudah-mudahan hidup kalian jauh lebih baik dari pada kehidupanku yang sesungguhnya. Tenang aja, bagaimanapun aku masih bisa bersyukur kok.