Dear Penjual Nasi Goreng






Dear Penjual Nasi Goreng


Dear Penjual Nasi Goreng
sumber: stefanikristina.com

Untuk Penjual Nasi Goreng Depan Gang dan Depan Rumah Sakit yang sebenernya aku favvvfavv  🙈😻

Masih aku ingat bagaimana kita berjumpa, ibu penjualnya tersenyum ramah mengandung banyak arti. Tak kuasa akhirnya aku belok untuk singgah karena hanya itu makanan terdekat saat dengan tempat tinggalku. Banyaknya pelanggan yang sedang duduk mengantri membuat aku tertarik dan mbatin " hmmm.. kayaknya ini nasi goreng enak ". 

Singgahlah aku untuk membeli satu bungkus nasi goreng diwaktu itu. Sang ibu pun ramah melayaniku dengan senang hati. Aku pun demikan menunggu dengan sukacita dalam hati. Sambil menunggu ku tak sengaja menghirup aroma nasi goreng yang sedang di jual oleh sang bapak. " Hmmm harummnyaaa, bikin laper ajaaa " batin ku dalam hati.

Tiba-tiba beberapa pesan whats app pun masuk, aku baca satu persatu sambil ku tunggu pesananku selesai. Dengan sabar aku menunggu satu bungkus nasi goreng itu, dan yahh itu pertama kalinya aku membeli nasi goreng dengan harga 7rb rupiah beserta kerupuk yang nantinya bakalan menemaniku makan sebungkus nasi goreng itu.

Harga yang murah, rasa yang enak, penjual yang ramah, dan lokasi penjualan yang dekat dengan tempatku tinggal membuat aku selalu singgah untuk datang dan datang kembali membeli nasi goreng kala aku malas untuk memasak atau pergi jauh. Bahkan beberapa teman sampai kakak asuh pun aku tawarin buat membeli nasi goreng disana, dan memang semua pun akhirnya jadi ketagihan.

Tapi hari ini aku dibuatnya kecewa. Awalnya yang kupikir penjual ini begitu baik dengan tetap gigih menolak seorang pelanggan yang ingin mengambil pesanan orang dan kemudian tetap meminta sang pelanggan untuk menunggu untuk dibuatkan saja pesanannya. Namun oh namun, rupanya sang bapak dan ibu penjual nasi goreng ini justru membuat aku yang datang duluan dari pada pelanggan itu harus menunggu.

KESAL. tentu saja.

Bagaimana mau tidak kesal kalau antrean ku diserobot begitu saja, dan tanpa permintaan maaf aku diminta untuk menunggu meski aku datang duluan. OooMaiiiGattt... jujur aku kecewa, aku kesal, dan sempat aku bertekat untuk nggak membeli sebungkus nasi goreng lagi, atau bahkan membatalkannya. Tapi aku tak memiliki keberanian seperti itu.

Ku urungkan niatku yang akan berkata kasar. Ku buat senyuman seramah mungkin dan bersikap seolah-olah biasa saja #oh fake face!, meski awalnya aku sudah dibuat malu karena aku sudah berdiri dari tempat dudukku dengan alih-alih berpikir bahwa itu adalah pesanannku yang sedang dikemas namun rupanya bukan, dan akhirnya aku kembali duduk lagi. 

mangkel.

Tapi bisa apa? 

Mau nggak ku makan sebungkus nasi goreng yang aku beli itu tapi aku bisa apa? Akhirnya kumakan pula nasi goreng itu dengan membuang pikiran yang telah lalu jauh-jauh. Sayangnya lewat beberapa jam rupanya pemikiran itu kembali lagi, syukur perut sudah terisi dan nggak minta untuk ditambah lagi (mau cari kemana pula makanan tengah malam -_-).

Entah kedepannya bagaimana, apakah aku bakalan tetap membelimu? Atau mungkin aku bakalan beralih pada penjual lain? Hmmm aku kesal, tapi aku nggak bisa mengutarakannya. Terima kasih telah memberikan ku pelayanan yang kurang memuaskan padahal beberapa menit sebelumnya baru saja aku puji bagaimana pelayananmu yang bagus.

Mungkin bisa jadi aku juga salah, harusnya kuberikan dahulu uangku sebagai tanda jadi untuk memesan nasi goreng agar si bapak yang tak sabaran itu bisa menunggu lebih lama dan belajar akan arti kata sabar. Tapi gimana lagi. Hmmm nasi sudah digoreng jadi nasi goreng dan nasi gorengnya pun sudah ku makan.

Mudah-mudahan tidak ada pelanggan lain yang engkau kecewakan seperti aku saat itu. Agar tidak ada pelanggan lain yang kabur hanya karena sebungkus nasi goreng.

Sekian dahulu postingan dari ku. terima kasih untuk sebungkus nasi goreng dengan kisah yang membuatku curhat di blog pribadiku. Syukur-syukur ada yang mau baca dan scroll sampai bawah, nggak bosen dengan tulisan yang ala kadarnya ini. Ku doakan untuk bapaknya agar anaknya tidak ketularan menjadi orang yang senang korupsi, nepotisme, atau sejenisnya, yang terutama mudah-mudahan baik bapak maupun anak bisa belajar lebih bersabar.

maaf apabila ada salah kata, buat yang mau follow instagram penulis bisa cek di @stefanikristina