Cerita Ibu Penjual Pentol Jam 10 Malam





Dirumah yang telah ku tinggali lebih dari 5 tahun ini aku memiliki salah satu penjual langganan. Namanya baru kuketahui setelah lebih dari satu tahun tinggal dirumah ini. Ia dipanggil Poo oleh masyarakat yang tingga didaerah tempat tinggalku. Entah itu nama aslinya atau tidak.

Cerita Ibu Penjual Pentol Jam 10 Malam
sumber: google


Btw, pertemuan kita entah berapa tahun yang lalu, yang kuingat saat itu sedang hujan seharian dan ia lewat sekitar pukul 10 malam. Aku pikir ia juga menjual kopi-kopi gitu atau juga plus mie instan dan sebagainya. Rupanya ia menjual pentol dan beberapa jajan saja.

Aku yang lagi laper dan juga keluarga pun memustuskan untuk memanggil dan membeli apa saja yang kiranya bisa kami beli untuk kami makan. Nah dari pertemuan pertama itu serta perkenalan singkat itu akhirnya aku dan juga keluarga hampir setiap malam membeli pentol atau jajan yang dijual oleh Bu Poo atau yang biasa kami panggil Poo saja, tapi aku sih tetap lebih nyaman panggil buk.

Singkat cerita, beberapa waktu yang lalu aku mengalami hal yang tidak aku sukai. Kurang lebih sama seperti kisah ku sebelumnya yaitu dengan -- PENJUAL NASI GORENG -- Aku beli dahulu, sudah sabar menunggu ia menepi tapi kemudian ada yang datang dan aku diselat begitu saja. Kalau sekali dua kali sih aku masih bisa menerimanya, sayang sudah berulang kali hal ini terjadi.

Jujur aku bukan tipe orang yang ketika sudah dikecewakan sekali maka langsung akan marah begitu. Memang aku marah atau kesal, tapi biasanya sesaat saja. Tapi setelah itu maka aku akan bersikap biasa. Nah adik nih yang mengingatkan aku akan sikap sang penjual sebelum-sebelumnya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk tidak membeli lagi sejak saat itu.

Kurang lebih sudah dua atau tiga bulan ini aku tidak pernah membeli, keluarga pun juga melakukan hal yang sama ketika saya tanyai. Tapi memang kebetulan juga aku jarang ada dirumah sih jadi nggak sempat juga kalau mau beli.

Hari ini penjual itu lewat lagi depan rumah seperti biasa. Jujur aku seneng banget dengan dia dan juga salut. Kenapa? Karena ia rela berjalan dari sore sampai malam untuk menghidupi keluarganya dan juga menggantikan posisi suaminya sebagai tulang punggung keluarga karena sedang sakit. Ada rasa simpati dalam diri ku tapi ya itu tadi lhoo balik lagi..

" KENAPA SIH SEMUA PENJUAL ITU BERBUAT YANG SAMA ITU ITU AJA?? "

Harusnya kan ia bisa menempatkan atau memposisikan gimana kalau hal tersebut terjadi padanya juga, misal saat berbelanja di pasar ia diserobot gitu aja dan ia diperlakukan sama seperti memperlakukan pembelinya. Disini pun aku semakin banyak belajar untuk lebih memahami dan mengerti orang lain.

Nggak terima? jelas. Tapi bukan berarti kemudian aku bakalan marah - marah atau bahkan melakukan hal yang sama dengan orang lain. Tapi aku berusaha untuk belajar mengerti dan memposisikan diriku serta nggak lupa juga berusaha untuk memahaminya.

Disisi lain aku berusaha mengerti dan memahami mungkin saja si Bu Poo takut pelanggannya kabur karena kalau melayani aku terlebih dahulu, atau mungkin dikiranya aku cewek jadi bisa lah mengerti gitu nggak seperti pelanggannya yang lain atau mungkin karena aku masih dikiranya kecil jadi nggak bakalan marah-marah atau bentak-bentak seperti pelanggannya yang orang dewasa lainnya, dan masih banyak lagi. Untuk itu disini aku belajar untuk mengerti dan juga aku belajar memposisikan diriku juga sebagai orang lain saat menghadapi seorang pelanggan sama seperti Bu Poo.

Semangatnya jualan setiap malam yang nggak pernah absen kalau nggak lagi ada keperluan itu membuatku respek dengannya.

Meski sampai sekarang aku juga nggak beli lagi sih atau mungkin belum beli yakkk tapi aku nggak menaruh dendam.

Oke sekian dahulu postinganku kali ini.