Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Halaman 111 Kelas 12 Semester 2

Selamat sore, Apa kabar para pembaca sekalian? Maaf bila saya baru sempat untuk memposting kunci jawaban dan menanggapi setiap email Anda. Tentu hal ini bukan karena kesengajaan saya, namun memang akhir-akhir ini banyak sekali kesibukan yang cukup menyita waktu.

instagram @nifafani

NB : yang suka baca novel atau ingin koleksi ovel murmer nih start mulai 3K cek yaa Party Novels 3K dan Party Novels Under 20K

Karena sudah deadline dan kantong tipis akhirnya saya mengabaikan blog. Mohon maaf sebelumnya dan mohon di mengerti yaa.. Hidup dan mati saya dengan menulis dan dedline. Kan sayang kalau mati secara cuma-cuma karena ga nulis hihi *aduh kok curcol* yah siapa tahu yang domisili Surabaya mau berkunjung kerumah buat kirim-kirim makanan sembari menemani saya mengerjakan setiap kunci jawaban wkwk *ngarep pol*

Oke langsung saja yuk.. awal bulan Februari lalu ada yang request untuk Kunci Jawaban Bahasa Indonesia halaman 111 nih.. yukyuk simak.

No.
Kutipan Nyanyi Sunyi dari Indragiri
Gaya Bahasa
1.
Hampir setiap hari pula, dia selalu mendengar suara mesin penebang kayu meraung-raung tidak siang tidak malam dan beberapa hari kemudian kayu-kayu, yang sudah dirajang dengan rapi baik berbentuk papan maupun batangan segi empat dikeluarkan oleh serombongan kerbau dari hutan (NSdI, 2004:40).
Antitesis
2.
Semuanya seperti musim kering; kemarau datang dan angin gersang menusuk-nusuk. Semuanya seperti musim basah; hujan dan badai adalah nyanyian dalam sedih dan ngilu. Semuanya seperti perih, ketika langit tak menyisakan cerita apa-apa. Semuanya menjadi sepi... (NSdI, 2004:1).
Repitisi
3.
Angin senja yang hampir habis membuat rambutnya berkibar-kibar, dan sinar matahari yang hamper tenggelam membuat rambutnya tampak hanya bayangan, seperti siluet (NSdI, 2004:100).
Metafora
4.
Hampir setiap hari, dalam panas yang memanggang kampung itu, hal seperti itu terjadi; raungan gergaji sepanjang hari, suara gedblar kayu tumbang, kayu yang ditarik kerbau keluar dari hutan menuju pinggir sungai, dan rombongan aliran kayu ke arah hilir (NSdI, 2004:40).
Hiperbola
5.
Tetapi aku sadar sesadar-sadarnya, bahwa tatapan matanya yang sangat tajam ketika kami pertama kali bertemu—bukan bertemu, aku yang memandangnya dari kejauhan— menjelang senja beberapa waktu sebelum huru hara itu, telah mengubah seluruh tatanan pemikiranku selama ini  (NSdI, 2004:60).
Sinestesia
6.
Aku diam menahan perih. Perlahan air mataku mengalir dan aku tak bias terisak. Memang tak ada isak, yang ada dalam diriku adalah pedih, ngilu, dan nyeri (NSdI, 2004:21—22).
Klimaks

Terima kasih telah berkunjung ke blog @NifaFani. Mohon maaf bila mana ada salah kata dan perbuatan. Bila ada yang kurang berkenan Anda dapat menyampaikannya via twitter @nifafani, email stefanikristina@gmail,com atau via instagram @nifafani, DM ya.. 

Bila Anda cukup mengenal saya dapat langsung menegur sapa dan memberitahukan mana-mana hal yang kurang berkenan. 

Baik sekian dahulu dari saya untuk postingan sore kali ini.