Pemberi atau Penerima Hadiah


 : pemberi hadiah

 : penerima hadiah


-------

 : heiiii,,  aku punya sesuatuu buat kamuuu! 

 : ohh yaaa??  Apa ituu??  ( dengan ekspresi yang luar biasa semangat) 


 : nihh buka dehh buruannn!!! 


 : tarr aja yaaa ku bukaaa ^^ ( taruh barang,  tinggal aktivitas,  pas liat pemberi hadiah ga liat ke si pemerima,  langsung di buka) 


(pas sudah terbuka dan tahu isinya)

 : yahhh...  (satu kata mengundang makna yang dalam)


Namun sebenarnya,  tanpa disadari ternyata sang pemberi  menangkap ekspresi sang penerima hadiah dan ia pun hanya bisa tersenyum.

pemberi hadiah atau penerima hadiah
sumber: stefanikristina.com/foto hanya ilustrasi



----

Hokyaaa~ siapa yang pernah mengalami kisah pendek diatas?  Nggak mangkir dan nggak ngelak seringnya orang ingin sebuah " hadiah " itu sesuai dengan apa yang ia pikirkan,  sesuai ekspetasinya lah.  

Kadang orang menganggap bahwa hadiah dengan nominal tertentu itu bukanlah hadiah,  atau mungkin ia merasa hadiah itu tidak cocok untuk dirinya yang high class dan sebagainya.  Namun terlepas bagaimana hadiah itu.... Sebenarnya yang perlu dilihat adalah niat tulus dari hati masing-masing sang pemberi hadiah.

Bukan seberapa besar hadiah yang kamu beri,  bukan seberapa mewah hadiah yang kamu bawakan,  dan bukan seberapa mahal hadiah yang kamu kasih.  Tapi bagaimana niatmu yang tulus itu saja nggak terukur meski kamu hanya memberinya satu permen.

Kadang aku rindu menjadi anak-anak,  atau jauhh sebelum mengenal  bangku sekolah dasar. Dimana uang saku tidak pernah aku terima,  dimana mengetahui teman jajan itu enaknya minta ampun tapi bekalku yang paling mengenyangkan..  Disitu aku menemukan satu teman baik yang hanya kami berdua duduk bersama selalu.

Kedekatan kami yang awalnya mungkin didasari karena tidak ada teman,  atau kami yang paling kecil akhirnya membuat kami semakin dekat.  Dan disaat-saat tertentu apabila kami masing-masing ingin memberi hadiah,  rasanya pensil atau sebatang permen milkita itu sudah menjadi hadiah yang "wah" dan tentu kami akan senang menerimanya.

Kadang aku merindukan saat-saat seperti itu,  dimana belum mengenal akan namanya saingan,  ketenaran,  merasa ' aku ' nya menonjol dan sebagainya.  Inginnya balik ke sesuatu yang sederhana dan biasa tapi berkesan.  Cumaaa,,  siapa yang bisa kuajak untuk demikian??  Dengan orang zaman naaaaw rasanya mustahil sekali.

Kini orang menuntut popularitas,  menginginkan ketenaran atau hal-hal yang bisa memenuhi kepuasan pribadinya. Memiliki akun dengan ribuan followers adalah tujuan utama atau bahkan menjadi cita-citanya.  Segala cara dihalalkan termasuk berfoto atau merekam segala hal yang sebenarnya tidak pantas untuk dipublikasikan.  Tapi siapa juga yang akan menegur? 

Kata-kata " orang zaman now " , " anak zaman now " seperti sudah biasa dan menjadi hal yang wajar sehingga orang bisa memakluminya.  Tidak lagi menjadi hal yang seharusnya dibenarkan atau diluruskan,  justru menjadi hal yang ' oke lah maklum ' hmmmm...  

Mungkin akhirnya para netijen atau warga net akan mulai bermunculan,  baik dengan akun palsu atau akun pribadinya,  dengan kata-kata yang halus dan sopan hingga kasar dan penuh makian hingga umpatan.  Dan sekali lagi orang-orang yang posisinya sebagai pengamat atau komentator akan menjawab " halahh maklum,  orang zamam now ". What?  

Heiiii!  Ini 2018! Dimana seharusnya era terbuka ini pikiran kita juga semakin terbuka,  terbuka menerima yang baik dan memproses atau memilah yang tidak baik. Tapi sudahlah~Biarkan semua berpihak pada pemikiran mereka sendiri.