(Review dan Jual Buku) Misteri Cincin Yang Hilang S Mara Gd





Balik lagi ngereview buku-buku lama, kali ini saya ingin membahas tentang salah satu buku karya S Mara Gd yang berjudul Misteri Cincin Yang Hilang. Sama seperti buku-buku sebelumnya yang saya baca, buku ini termasuk salah satu seri cerita yang kasusnya ditangani oleh Kapten Polisi Kosasih dan Gozali. Pensaran gimana ceritanya? Dipostingan kali ini akan saya review buku ini, apabila para pembaca tertarik untuk membelinya dapat menghubungi saya di kontak di bawah ini.. Jadi scroll scroll kebawah ya ^^ Selamat membaca
(Review dan Jual Buku)  Misteri Cincin Yang Hilang S Mara Gd
sumber : Google



Josefina Aznan tidak mengetahui dia memiliki sesuatu yang berharga di Lawang, sampai paman dan bibinya yang sudah tak pernah dilihatnya selama belas-an tahun tiba-tiba muncul mencarinya.

Itulah awal munculnya intrik dan pembunuhan di kota kecil yang berhawa sejuk itu.

Baru tiga hari Josefina di sana ia sudah dituduh membunuh seorang laki-laki tua, bekas tukang kebun kakeknya, karena dianggap dia ingin mengambil kembali cincin paman angkatnya yang telah dicuri si tukang kebun tiga puluhan tahun yang lalu. Tapi sebelum polisi berhasil membuktikannya, jatuh lagi korban berikutnya, dan berikutnya. Semua korban ternyata orang-orang yang sudah tua.

Siapakah si pembunuh ini, yang berkeliaran membunuh orang-orang tua itu, dan mengapa? Apakah itu ada kaitannya dengan cincin Hartono yang hilang?

Kapten Polisi Kosasih dan rekannya Gozali kali ini harus berlomba dengan si pembunuh. Mereka sudah kecurian tiga langkah, berhasilkan mereka menangkapnya atau akan jatuh korban yang keempat?

Lanjut sinopsis dari sayaaa ^^

Cerita ini dimulai dari Edwin Nurbani yang tertarik untuk membeli rumah Firman anak tiri dari Indra Aznan. Edwin Nurbani adalah bos Firman namun ia memiliki ketertarikan yang kuat dengan rumah itu sehingga ia berniat untuk membelinya. Indra Aznan yang mengetahui hal ini tentu senang dan mengatakan bersedia untuk menjualnya.

Kiranya sampai disitu saja maka transaksi selesai, rupanya tidak. Rumah itu bukan dihibahkan oleh ibu Indra Aznan pada Indra seorang namun juga pada Josefina anak dari Irawan yang tak lain adalah kakak Indra Aznan. Sudah berpuluh-puluh tahun Irawan meninggalkan rumah keluarganya di Lawang dan pergi ke Surabaya, ia pergi meninggalkan ayahnya pak Ibrahim dan ibunya serta adiknya.

Ahli waris yang tak seorang itu jadi butuh tanda tangan atau persetujuan juga dari Josefina. Indra pun mencari tempat tinggal Josefina dan ibunya, ketika mereka bertemu.. Indra pun mengutarakan niatnya untuk datang dan Josefina pun memberikan respon yang positif, ia senang mendengar bahwa ia memiliki keluarga dari ayahnya namun ia juga penasaran bagaimana keluarga ayahnya ini dan mengapa ia baru tahu kalau ia memiliki rumah di Lawang?

Akhirnya Josefina pun meminta izin pada Meri ( ibu Josefina ) untuk pergi ke rumah paman dan bibinya. Dengan berat hati ibu Josefina pun memberikan izinnya, ia berpesan untuk berhati-hati dan apabila terjadi suatu hal ia diminta untuk lekas pulang. 

Berbekal izin dan beberapa cerita singkat dari ibunya, Josefina pergi ke Lawang. Rupanya begitu masuk dan melihat-lihat rumah Josefina mulai tertarik dan berniat untuk tinggal beberapa hari dan ia pun semakin kekeh untuk mempertahankan dirinya tidak menjual rumah itu, namun ia tidak ingin paman dan bibinya tahu dulu, baginya mereka bisa bersandiwara maka ia pun juga bisa.

Di Lawang ia bertemu dengan orang-orang yang baru, ada Hidayat sahabat ayahnya, ada Mbah Lasito, istri Hidayat, dan Fajar anaknya, serta sepupu-sepupu yang baru dikenalnya seperti Firman dan Clara. Saking senang dan banyaknya informasi yang ia dapatkan ia pun semakin tertarik untuk mengungkap rahasia tentang keluarganya, salah satunya adalah mengapa om Hartono meninggal dan kemudian memberikan cincin pada Mbah Lasito yang tak lain adalah tukang kebun dan bukan keluarga. Pikirannya yang kritis ini membuat sang pembunuh ketakutan rahasianya akan terbongkar, jadi beberapa orang pun akhirnya terbunuh untuk menutupi kejadian di masa lalu.

Singkat cerita, ada 5 orang yang meninggal karena dibunuh oleh sang pembunuh demi menutupi kebohongan ini. Yang pertama adalah Hartono, kedua adalah Cak Lasito, ketiga adalah Cak Karsno, keempat adalah Indra Aznan, dan yang terakhir adalah Suhadi. Mengapa sang pembunuh sampai tega mencelakakan mereka, dan apa motif pembunuhannya??

Cerita yang dibawakan oleh Penulis S Mara Gd ini menjadi favorite saya sejak pertama kali saya membelinya. Saya bersyukur pada waktu kelas 6 SD dahulu ayah saya telah mengajak untuk membeli buku-buku lama ini dan menceritakan sekilas tantang pengarang-pengarang pada zamannya itu. Hingga sekarang saya jatuh cinta pada setiap buku yang lama dan lebih senang membaca buku-buku lama. 

Well, masih ada kelanjutan dari cerita ini yang bikin penasaran banget siapa sih yang membunuh dan apa motifnyaaa??? Buat yang penasaran dan berminat untuk membeli buku ini bisa cek SHOPEE, Atau bisa juga hubungi via WA di 0813 5707 8800.